kandidat Partai Green, Alexander Van der Bellen, yang memenangkan Pilpres Austria 22 Mei 2016. (ist)
INDOPOST, AUSTRIA – Diduga terdapat kecurangan dalam Pemilu Presiden
(Pilpres), Mahkamah Konstitusi (MK) Austria membatalkan hasil Pilpres
dan memerintahkan pemungutan suara ulang.
“Gugatan yang diajukan oleh pemimpin Partai Kebebasan Heinz-Christian Strache terhadap pemilu 22 Mei … telah disetujui,” kata Gerhard Holzinger, kepala Mahkamah Konstitusi Austria.
Seperti diketahui, Pemilu Presiden Austria yang digelar 22 Mei 2016 lalu, memperoleh hasil kemenangan bagi kandidat Partai Green, Alexander van der Bellen. Dilansir Russia Today, Alexander unggul tipis atas rivalnya Norbert Hofer dari Partai Kebebasan (FPO) dengan memperoleh 50,3 persen suara.
Keputusan penganuliran kemenangan ini, diambil setelah Partai Kebebasan yang merupakan partai berkuasa menduga ada kecurangan dalam penghitungan suara. Hal tersebut didasari dugaan penyimpangan dalam penghitungan kartu suara yang tidak dicoblos secara langsung di TPS.
Pengadilan mengatakan Pilpres akan diulang pada bulan September atau Oktober, yang bisa memungkinkan partai ekstrem kanan memimpin negara Uni Eropa untuk pertama kalinya.
(emn)
“Gugatan yang diajukan oleh pemimpin Partai Kebebasan Heinz-Christian Strache terhadap pemilu 22 Mei … telah disetujui,” kata Gerhard Holzinger, kepala Mahkamah Konstitusi Austria.
Seperti diketahui, Pemilu Presiden Austria yang digelar 22 Mei 2016 lalu, memperoleh hasil kemenangan bagi kandidat Partai Green, Alexander van der Bellen. Dilansir Russia Today, Alexander unggul tipis atas rivalnya Norbert Hofer dari Partai Kebebasan (FPO) dengan memperoleh 50,3 persen suara.
Keputusan penganuliran kemenangan ini, diambil setelah Partai Kebebasan yang merupakan partai berkuasa menduga ada kecurangan dalam penghitungan suara. Hal tersebut didasari dugaan penyimpangan dalam penghitungan kartu suara yang tidak dicoblos secara langsung di TPS.
Pengadilan mengatakan Pilpres akan diulang pada bulan September atau Oktober, yang bisa memungkinkan partai ekstrem kanan memimpin negara Uni Eropa untuk pertama kalinya.
(emn)
