Presiden Filipina Rodrigo
Duterte
INDOPOST, MANILA - Presiden Filipina Rodrigo
Duterte mengatakan ia tidak yakin mengapa menteri perdagangan China
membatalkan perjalanan ke negaranya. Duterte menyebut Beijing salah
paham soal komentar menteri luar negeri Filipina tentang militerisasi di
Laut China Selatan (LCS).
"Saya ingin meyakinkan China, dan ini adalah komitmen saya untuk melakukannya ketika Saya ada di sana, bahwa kita akan berbicara sebagai teman," katanya mengacu pada perjalanannya ke China pada tahun lalu seperti dikutip dari Reuters, Jumat (24/2/2017).
Ia juga mengatakan bahwa negaranya, meskipun lama beraliansi dengan Amerika Serikat (AS), tidak berkewajiban untuk mengikuti kebijakan luar negeri Washington.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Filipina Perfecto Yasay mengatakan, kawasan Asia Tenggara memiliki "keprihatinan serius" tentang instalasi senjata Cina di pulau-pulau buatan di Laut Cina Selatan.
"Para anggota ASEAN telah menyepakati sikap kekhawatiran mereka terhadap apa yang mereka lihat sebagai militerisasi wilayah," kata Yasay.
Filipina adalah pemimpin ASEAN pada tahun ini dan akan menjadi tuan rumah pertemuan tahunan. Pertemuan ini akan dihadiri oleh sejumlah negara luar ASEAN, termasuk China dan AS.
(ian/indo)
"Saya ingin meyakinkan China, dan ini adalah komitmen saya untuk melakukannya ketika Saya ada di sana, bahwa kita akan berbicara sebagai teman," katanya mengacu pada perjalanannya ke China pada tahun lalu seperti dikutip dari Reuters, Jumat (24/2/2017).
Ia juga mengatakan bahwa negaranya, meskipun lama beraliansi dengan Amerika Serikat (AS), tidak berkewajiban untuk mengikuti kebijakan luar negeri Washington.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Filipina Perfecto Yasay mengatakan, kawasan Asia Tenggara memiliki "keprihatinan serius" tentang instalasi senjata Cina di pulau-pulau buatan di Laut Cina Selatan.
"Para anggota ASEAN telah menyepakati sikap kekhawatiran mereka terhadap apa yang mereka lihat sebagai militerisasi wilayah," kata Yasay.
Filipina adalah pemimpin ASEAN pada tahun ini dan akan menjadi tuan rumah pertemuan tahunan. Pertemuan ini akan dihadiri oleh sejumlah negara luar ASEAN, termasuk China dan AS.
(ian/indo)
