ilustrasi
Penulis: Birgaldo Sinaga
Sejak saya aktif di facebook 2009, status tentang agama saya
hindari. Status agama berisi tulisan ayat ayat suci, share link khotbah
agama dlsb pantang buat saya. Secara prinsip tentang agama berada pada
zona merah buat saya dalam memposting status. Masih segar dalam
ingatan saya, isu nilai nilai agama Kristen juga dibawa bawa dalam
politik pada pilpres 2014. Saat itu saya begitu keras melawan politisasi
agama ini dalam permainan para pendeta. Terutama sekumpulan pendeta
yang mencomot ayat ayat suci untuk membohongi jemaat gereja agar memilih
capres tertentu.
Masa itu, banyak kelompok denominasi gereja dan
kalangan pendeta terbelah dalam pusaran politik memihak antara Prabowo
dan Jokowi. Ruang ruang percakapan penuh dengan debat ayat Alkitab.
Tidak jarang aroma penggadaian ayat demi jagoannya mendapat suara jemaat
dikorbankan. Syahwat kekuasaan menelanjangi kesalehan relijius dan
spiritualitas si pendeta.
Jauh sebelumnya, pada pemilu 2004,
eforia munculnya Partai PDS dengan simbol salib dan burung merpati
menghentak dunia umat Nasrani. Saat itu Partai Damai Sejahtera mencuri
nalar iman umat Nasrani dengan jargon jargon narasi firman Tuhan dalam
setiap kampanyenya.
Kelompok pentolan PDS ini memasang garis api
bagi pengurus partai tidak seorangpun boleh merokok. Sebelum kegiatan
rapat pertemuan harus berdoa dan kebaktian dulu. Pokoknya PDS adalah
refleksi kehadiran Tuhan dalam mengubah bangsa dan negara agar sesuai
narasi Injil.
Jargon jargon jualan pentolan PDS ini menghipnotis
umat Nasrani. Mereka tersentuh hatinya memandang simbol salib yang bagi
umat adalah simbol suci lambang penebusan dosa dan karya penyelamatan
Yesus Kristus.
Di basis basis penganut Nasrani, PDS unggul
telak. Eforia pemulihan bangsa melalui citra dan sikap anak anak Tuhan
ini menjadi magnet kuat banyak umat membantu dana dan kampanye secara
swadaya. Tidak sedikit mengeluarkan uang pribadi demi misi kenabian
dalam memulihkan bangsa dan negara. Hasil pemilu 2004, PDS
mendapat cukup kursi membentuk satu fraksi di DPR. Di daerah kantong
nasrani bahkan mendominasi jumlah perolehan kursi.
Kekuasaan
duniawi saat itu dalam genggaman. Jargon jargon ayat ayat suci saat
menghipnotis umat saat kampanye seiring waktu berjalan mulai hilang.
Para pentolan partai yang terpilih dan duduk di gedung DPR/ DPRD mulai
miring ke kiri miring ke kanan.
Pada 2009 pemilu digelar
kembali. Jemaat Kristen yang dulu menggebu gebu mendukung PDS berbalik
mencemooh PDS. Partai Damai Sejahtera ini mendapat hukuman pemilih. Ditempat saya, menjadi olok olok. Jualan salib dan ayat ayat.
Membohongi jemaat. Sama saja dengan partai sekuler lainnya. Itulah
hukuman publik. Hasilnya PDS jeblok. Gagal ke senayan. Di daerah juga
hancur.
Dalam perjalanan peradaban panjang agama Kristen begitu
banyak umat dibohongi dan dibodohi oleh pemimpin agamanya. Mereka
mencomot seenak perut untuk kepentingan pribadi. Motifnya bisa politik
kekuasaan bisa juga uang.
Masih segar dalam ingatan publik
bagaimana segelintir pendeta melakukan perayaan kemenangan Prabowo Hatta
karena mengaku mendapat ilham penglihatan dari roh kudus. Sekelompok
pendeta ini membohongi jemaat dengan fasih mengutip dan menyitir ayat
ayat suci untuk mendukung halusinasinya tentang kemenangan Prabowo pada
pilpres 2014.
Poinnya yang ingin saya katakan adalah kekuasaan
itu memabukkan. Karena begitu memabukkan maka Machiavelli abad 17 lampau
mengajarkan faham menghalalkan segala cara untuk merebut dan
mempertahankan kekuasaan itu. Membenturkan dan menghabisi kelompok
masyarakat hingga berbantai bantaian sah sah saja demi kekuasaan itu.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk mensimplikasi kontroversi atas ucapan
Ahok di Kepulauan Seribu kemarin. Saya tidak punya kemampuan
berargumentasi dalam debat hermeneutika alias ilmu tafsir pada surat 51
Almaidah yang menjadi polemik sekarang ini. Saya hanya ingin
berbagi catatan sejarah saja bahwa di semua pemeluk agama ada fakta
empirik seringkali ayat ayat suci dipakai untuk meraih ambisi syahwat
kekuasaan politik. Yahudi, Kristen, Khatolik, Hindu dlsb fakta empirik
sejarah mencatat dengan jernih petualangan perebutan kekuasaan itu.
Penuh darah dan air mata.
Saya jadi teringat saat poros tengah
masa Amin Rais, Megawati dan Gus Dur pada 1999. Saat itu Megawati
Soekarno Putri berpeluang menang menjadi Presiden. Lalu bermunculanlah
ayat ayat tentang hancurnya sebuah negara jika dipimpin seorang
perempuan yang masa itu begitu massive menggema di gedung MPR.
Terganjallah Mega menjadi Presiden. Naiklah Gus Dur dan Mega menjadi
Wapres.
Tidak lama kemudian, politik berubah angin. Gus Dur di
lengserkan oleh orang yang mengangkatnya. Dan oleh orang yang sama
Megawati yang divonis akan membawa bangsa negara akan hancur kalo
dipimpinnya malah diangkat menggantikan Gus Dur menjadi Presiden.
Pengganti Mega sebagai wakil presiden adalah Hamzah Haz Ketum Partai
PPP yang sebelumnya begitu getol menolak Mega menjadi Presiden karena
alasan keimanan itu. Begitu dapat jabatan wapres, maka alasan keimanan
itupun menguap ditelan angin. Itulah politik. Isu politisasi agama bisa digunakan kapan saja pada siapa saja untuk kepentingan dan syahwat kekuasaan.
Salam Membara....!!!
