# Group 1 User-agent: Googlebot Disallow: /nogooglebot/ # Group 2 User-agent: * Allow: / Sitemap: https://www.infiltrasi.com/sitemap.xml
Latest News
Saturday, October 8, 2016

Politisasi Agama Demi Syahwat Kekuasaan

ilustrasi


Penulis: Birgaldo Sinaga


Sejak saya aktif di facebook 2009, status tentang agama saya hindari. Status agama berisi tulisan ayat ayat suci, share link khotbah agama dlsb pantang buat saya. Secara prinsip tentang agama berada pada zona merah buat saya dalam memposting status. Masih segar dalam ingatan saya, isu nilai nilai agama Kristen juga dibawa bawa dalam politik pada pilpres 2014. Saat itu saya begitu keras melawan politisasi agama ini dalam permainan para pendeta. Terutama sekumpulan pendeta yang mencomot ayat ayat suci untuk membohongi jemaat gereja agar memilih capres tertentu.

Masa itu, banyak kelompok denominasi gereja dan kalangan pendeta terbelah dalam pusaran politik memihak antara Prabowo dan Jokowi. Ruang ruang percakapan penuh dengan debat ayat Alkitab. Tidak jarang aroma penggadaian ayat demi jagoannya mendapat suara jemaat dikorbankan. Syahwat kekuasaan menelanjangi kesalehan relijius dan spiritualitas si pendeta.

Jauh sebelumnya, pada pemilu 2004, eforia munculnya Partai PDS dengan simbol salib dan burung merpati menghentak dunia umat Nasrani. Saat itu Partai Damai Sejahtera mencuri nalar iman umat Nasrani dengan jargon jargon narasi firman Tuhan dalam setiap kampanyenya. 

Kelompok pentolan PDS ini memasang garis api bagi pengurus partai tidak seorangpun boleh merokok. Sebelum kegiatan rapat pertemuan harus berdoa dan kebaktian dulu. Pokoknya PDS adalah refleksi kehadiran Tuhan dalam mengubah bangsa dan negara agar sesuai narasi Injil.

Jargon jargon jualan pentolan PDS ini menghipnotis umat Nasrani. Mereka tersentuh hatinya memandang simbol salib yang bagi umat adalah simbol suci lambang penebusan dosa dan karya penyelamatan Yesus Kristus. 

Di basis basis penganut Nasrani, PDS unggul telak. Eforia pemulihan bangsa melalui citra dan sikap anak anak Tuhan ini menjadi magnet kuat banyak umat membantu dana dan kampanye secara swadaya. Tidak sedikit mengeluarkan uang pribadi demi misi kenabian dalam memulihkan bangsa dan negara. Hasil pemilu 2004, PDS mendapat cukup kursi membentuk satu fraksi di DPR. Di daerah kantong nasrani bahkan mendominasi jumlah perolehan kursi.

Kekuasaan duniawi saat itu dalam genggaman. Jargon jargon ayat ayat suci saat menghipnotis umat saat kampanye seiring waktu berjalan mulai hilang. Para pentolan partai yang terpilih dan duduk di gedung DPR/ DPRD mulai miring ke kiri miring ke kanan. 

Pada 2009 pemilu digelar kembali. Jemaat Kristen yang dulu menggebu gebu mendukung PDS berbalik mencemooh PDS. Partai Damai Sejahtera ini mendapat hukuman pemilih. Ditempat saya, menjadi olok olok. Jualan salib dan ayat ayat. Membohongi jemaat. Sama saja dengan partai sekuler lainnya. Itulah hukuman publik. Hasilnya PDS jeblok. Gagal ke senayan. Di daerah juga hancur.

Dalam perjalanan peradaban panjang agama Kristen begitu banyak umat dibohongi dan dibodohi oleh pemimpin agamanya. Mereka mencomot seenak perut untuk kepentingan pribadi. Motifnya bisa politik kekuasaan bisa juga uang. 

Masih segar dalam ingatan publik bagaimana segelintir pendeta melakukan perayaan kemenangan Prabowo Hatta karena mengaku mendapat ilham penglihatan dari roh kudus. Sekelompok pendeta ini membohongi jemaat dengan fasih mengutip dan menyitir ayat ayat suci untuk mendukung halusinasinya tentang kemenangan Prabowo pada pilpres 2014.

Poinnya yang ingin saya katakan adalah kekuasaan itu memabukkan. Karena begitu memabukkan maka Machiavelli abad 17 lampau mengajarkan faham menghalalkan segala cara untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan itu. Membenturkan dan menghabisi kelompok masyarakat hingga berbantai bantaian sah sah saja demi kekuasaan itu.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mensimplikasi kontroversi atas ucapan Ahok di Kepulauan Seribu kemarin. Saya tidak punya kemampuan berargumentasi dalam debat hermeneutika alias ilmu tafsir pada surat 51 Almaidah yang menjadi polemik sekarang ini. Saya hanya ingin berbagi catatan sejarah saja bahwa di semua pemeluk agama ada fakta empirik seringkali ayat ayat suci dipakai untuk meraih ambisi syahwat kekuasaan politik. Yahudi, Kristen, Khatolik, Hindu dlsb fakta empirik sejarah mencatat dengan jernih petualangan perebutan kekuasaan itu. Penuh darah dan air mata. 

Saya jadi teringat saat poros tengah masa Amin Rais, Megawati dan Gus Dur pada 1999. Saat itu Megawati Soekarno Putri berpeluang menang menjadi Presiden. Lalu bermunculanlah ayat ayat tentang hancurnya sebuah negara jika dipimpin seorang perempuan yang masa itu begitu massive menggema di gedung MPR. Terganjallah Mega menjadi Presiden. Naiklah Gus Dur dan Mega menjadi Wapres. 

Tidak lama kemudian, politik berubah angin. Gus Dur di lengserkan oleh orang yang mengangkatnya. Dan oleh orang yang sama Megawati yang divonis akan membawa bangsa negara akan hancur kalo dipimpinnya malah diangkat menggantikan Gus Dur menjadi Presiden.

Pengganti Mega sebagai wakil presiden adalah Hamzah Haz Ketum Partai PPP yang sebelumnya begitu getol menolak Mega menjadi Presiden karena alasan keimanan itu. Begitu dapat jabatan wapres, maka alasan keimanan itupun menguap ditelan angin. Itulah politik. Isu politisasi agama bisa digunakan kapan saja pada siapa saja untuk kepentingan dan syahwat kekuasaan.


Salam Membara....!!!
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Politisasi Agama Demi Syahwat Kekuasaan Rating: 5 Reviewed By: Infiltrasi