ilustrasi
Penulis: Sumanto al Qurtuby, Senior Research Scholar, Middle East Institute,
National University of Singapore, dan Dosen di King Fahd University of
Petroleum and Minerals, Arab Saudi.
Apa ada yang salah dengan “menjadi Barat “ atau “menjadi Arab”? Menjadi
intelek tidak harus menjadi Barat dan menjadi alim-saleh tidak perlu
menjadi Arab. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali Presiden Soekarno atau Bung
Karno, sang proklamator kemerdekaan Republik Indonesia, dalam berbagai
pidatonya yang khas menggelegar dan bergemuruh mengingatkan agar bangsa
Indonesia jangan mau menjadi “bangsa kuli” dan menjadi kuli
bangsa-bangsa lain (a nation of coolies and a coolie amongst nations).
Kini, sudah lebih dari tujuh puluh tahun Indonesia merdeka sejak Sang
Proklamator berpidato berapi-api pada 17 Agustus 1945. Tetapi apa lacur,
sampai setua ini, Bangsa Indonesia masih menjadi “bangsa kuli” dan
“bermental inlander”. Bangsa yang hanya bisa “menyusu” kepada
bangsa-bangsa lain. Bangsa yang hanya bisa membeo dan membebek terhadap
bangsa-bangsa lain—baik “bangsa Barat” maupun “bangsa Timur”. Inikah
“kutukan Bung Karno?”
Entahlah saya tidak tahu. Yang jelas hingga dewasa ini, bangsa yang yang
sangat kaya raya dengan sumber alam yang melimpah-ruah, dengan warisan
tradisi dan budaya leluhur yang beraneka ragam, dan dengan peninggalan
sejarah yang menggunung dan “meng-samudra” ini belum juga mampu “naik
kelas” menjadi “bangsa majikan”.
Mengidolakan bangsa lain
Alih-alih beranjak menjadi “bangsa majikan”, bangsa ini ironisnya malah
bangga menyandang status sebagai “bangsa kuli” yang membanggakan dan
mengidolakan bangsa-bangsa lain, sekaligus merendahkan martabat,
sejarah, budaya, tradisi, bahasa, dan bangsanya sendiri. Lihatlah
bagaimana tingkah-polah para anak-bangsa Indonesia yang merasa
gagah-perkasa menjadi “kuli” bangsa-bangsa lain itu.
Satu sisi, ada segolongan masyarakat kita yang merasa gagah-perkasa
“menjadi Barat” dengan membanggakan dan mengagung-agungkan sistem
politiknya, struktur masyarakatnya, sistem budayanya, perekonomiannya,
pendidikannya, tata-busananya, bahasanya, cara menyapa dan
berkomunikasinya, dan sebagainya.
Sementara itu di sisi lain, ada sekelompok masyarakat yang juga tidak
kalah fanatiknya dalam “mendewakan” Arab dan Timur Tengah. Para “Arab
mania” ini, sebagaimana para “pecinta Barat”, juga cinta mati dengan
hal-ikhwal yang berkaitan dengan dunia Arab: budayanya, bahasanya,
busananya dan seterusnya.
Jika para “Barat lovers” merasa diri lebih intelek kalau sudah meniru-niru Barat, maka para “Arab cheerleaders” merasa diri lebih agamis, lebih alim, dan lebih Islami kalau sudah bergaya dan “berdandan” ala Arab. Para fans
Arab ini selalu mengklaim apa yang mereka lakukan itu sebagai “nyunah
Nabi” (yakni mengikuti praktek kehidupan keseharian Nabi Muhammad)
meskipun pada praktekknya sebetulnya mereka itu mengikuti “sunah Arab”.
Bahkan memuja diktator
Ada lagi sekelompok masyarakat yang begitu mengelu-elukan Turki, lebih
khusus lagi Recep Tayyip Erdogan: sang presiden diktator yang gila
jabatan sekaligus bekas Perdana Menteri Turki dan walikota Istanbul.
Bahkan ada pula yang gandrung (“cinta buta”) dengan budaya Korea
Selatan misalnya “gaya joget” Gangnam, sebuah senam model K-pop ciptaan
Psy (Park Jae-sang), seorang penyanyi, penulis lagu sekaligus produser,
yang hitsnya sempat meledak di Indonesia.
Contoh lain lagi sebagai bukti kalau bangsa ini tidak lebih sebagai
“kelas jongos” bangsa-bangsa lain misalnya dengan pendirian berbagai
ormas keagamaan transnasional di Indonesia seperti Hizbut Tahrir,
Jama'ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin dan masih banyak lagi. Sebagian lagi
rela menjadi “penyambung lidah“ para “ulama asing”.
Mengapa mengkafirsesatkan budaya sendiri?
Apakah ada yang salah dengan “menjadi Barat” atau “menjadi Arab”? Apakah ada yang keliru dengan mengidolakan bangsa-bangsa lain? Tentu saja tidak ada yang salah. Setiap individu bebas untuk memilih dan
menentukan pilihannya. Setiap individu juga memiliki hak untuk “menjadi
Barat”, “menjadi Arab” atau menjadi bangsa lain. Masalahnya adalah
mereka bukan hanya sekedar mengidolakan Barat atau mengkultuskan Arab
tetapi sikap fanatisme mereka terhadap bangsa lain itu diiringi dengan
tindakan menafikan dan bahkan merendahkan bangsanya sendiri.
Bahkan tragisnya para pengasong budaya Arab khususnya tidak segan-segan
menggunakan idiom-idiom keislaman untuk membid'ahkan dan
mengkafir-sesatkan berbagai warisan tradisi dan budaya lokal Indonesia
warisan nenek-moyang dan para leluhur bangsa..
Tidak sebatas itu, mereka juga dengan gencarnya mengkampanyekan berbagai
“budaya asing” itu di Indonesia. Sebagian kelompok “Arab mania” juga
dengan gigihnya merendahkan dan bahkan mengkafir-sesatkan para ulama dan
kiyai Indonesia yang begitu alim, sementara pada saat yang bersamaan
mereka rela menjadi “budak pemikiran” para ulama Arab
Hargai bangsa sendiri
Padahal, jika kita sedikit cerdas mengamati dan menganalisa, meskipun
dengan susah-payah kita berusaha sekuat tenaga “menjadi Barat” atau
“menjadi Arab”, mereka—bangsa Arab dan bangsa Barat itu—tidak pernah
melirik sedikitpun terhadap Indonesia.
Sepanjang perekonomian Indonesia belum membaik dan sepanjang mentalitas
bangsa ini masih bermental inlander, maka selama itu pula bangsa ini
akan menjadi obyek bukan subyek, penonton bukan pemain, kuli bukan
majikan.
Oleh karena itu ketimbang menjadi “pelayan” Arab (atau Barat), maka kita
akan jauh menjadi “makhluk bermartabat” di mata bangsa-bangsa lain,
jika kita mengapresiasi produk-produk kebudayaan sendiri dengan tetap
menghargai produk-produk kebudayaan asing. Menjadi intelek tidak harus
menjadi Barat dan menjadi alim-saleh tidak perlu menjadi Arab.
*********
