Mengapa pemilahan pendatang dan orang asli ini begitu mantap dan marak
diyakini di mana-mana? Termasuk di tanah air kita? Berikut renungan dan
analisa Geger Riyanto.
Penulis: Geger Riyanto,
esais dan peneliti sosiologi. Mengajar Filsafat
Sosial dan Konstruktivisme di UI.
Bergiat di Koperasi Riset Purusha.
Di jalan-jalan, para migran disoraki. "Pulang ke negaramu sendiri!"
Masjid didatangi pengunjuk rasa dan warga Islam diminta angkat kaki. Dan
di tempat-tempat lain, plakat dengan satu tulisan sama digadang-gadang.
Tulisannya?
"Mulai pemulangan! Mulai pemulangan!"
Inilah wajah beberapa sudut Inggris tak lama setelah Brexit, bagaikan
mimpi, benar-benar terjadi. Referendum ini memberikan rasisme sebuah
momentum baru. Mereka yang gerah dengan pendatang merasa bahwa pihaknya
adalah mayoritas dan, karenanya, punya hak meluahkan kebenciannya.
Namun, kebencian kepada pendatang bukanlah hal yang meledak mendadak
maupun unik. Dalam dua dasawarsa terakhir, Inggris menjadi saksi
melonjaknya jumlah pendatang jauh melampaui tren pertumbuhannya yang
sudah-sudah. Warga etnis minoritas kini nampak di mana-mana. Kegusaran
warga mayoritas akan kehilangan pekerjaan atau kemurnian rasnya pun
terpupuk di sebagian kalangan.
Dan di AS, berkat racauannya yang tak bisa disaring, Donald Trump
menjadi kandidat presiden sah negara ini. Kita tahu apa janji bombastis
Trump ihwal persoalan migran. Ia akan membersihkan mereka. Ia akan
membangun tembok besar di perbatasan AS-Meksiko. Ia akan mencegah
orang-orang Muslim memasuki AS. Kesohorannya dianyamnya dengan menunjuk
pendatang sebagai sumber kejumudan AS dan menawarkan akan menyingkirkan
mereka sebagai obatnya. Dan masyarakat AS, setidaknya yang mengantarkannya ke arena pilpres 2016, percaya kepadanya.
Klaim Buatan?
Ada satu pertanyaan yang lantas acap diajukan kepada mereka yang
memendam, merawat, membesarkan sentimen ini. Bukankah pendatang dan
orang asli merupakan klaim yang dibuat-buat?
Jawaban untuk pertanyaan di atas mudah dan singkat. Sangat mudah dan sangat singkat: ya. Sejarah manusia adalah sejarah pergerakan, dan nalar awam sekalipun akan membenarkan ini. Manusia tak lahir dari tanah, kita tahu. Hanya migrasi yang memungkinkan manusia tersebar ke berbagai belahan.
Dan sejauh beberapa kasus perbandingan yang bisa kita peroleh
memperlihatkan, penyebab seseorang dipanggil pendatang maupun orang asli
bahkan tak pernah benar-benar terkait dengan lamanya satu komunitas
warga hidup di wilayah tertentu.
Beberapa kelompok orang Buton, misal saja, bermukim di pelbagai pelosok
Maluku sejak abad ke-19 sebagaimana Muslim Prancis sudah tiga generasi
hidup di negara tersebut. Warga Tionghoa Jakarta, yang selalu
diperlakukan sebagai orang asing dalam kampanye hitam, kenyataannya
tinggal lebih lama di kota ini ketimbang kebanyakan warga Jakarta.
Namun, komunitas-komunitas ini tetap tak bisa menanggalkan anggapan
mereka merupakan orang yang datang kemarin sore dan tak pernah seutuhnya
berhak atas tanah yang mereka tinggali. "Orang Buton?" tetua desa di Seram yang saya ajak berbincang berujar.
"Mereka membantu melawan Belanda. Tapi datang ke sini baru saja."
Kuasa dan Hajat Hidup
Nah, karenanya, pertanyaan yang rasanya lebih mengena adalah, mengapa
pemilahan pendatang dan orang asli ini begitu mantap dan marak diyakini
di mana-mana?
Karena ia menyangkut kuasa dan hajat hidup.
Sebagai perbandingan kontras, ambil saja bagaimana label pendatang ini
digulirkan di masyarakat yang tak alergi dengannya. Pertama-tama, di
masyarakat Huaulu, Pulau Seram, yang dikaji seorang kawan, Muhammad
Rifqi. Huaulu adalah satu masyarakat yang masih taat menjalani berbagai
pamali. Orang-orang sekitar memandang mereka benteng kebudayaan Seram
yang asali, murni, dan demikian juga anggapan dari mereka sendiri.
Namun, satu hal yang menarik, sebagian marga dari Huaulu menganggap diri
mereka awalnya adalah pendatang. Sewaktu diteliti rekan saya, mereka
mengaku berasal dari Tidore. Pada tahun 1980-an, dalam studi antropolog
lain, mereka mengaku berasal dari Ternate.
Sementara pada masyarakat Sawai, tak jauh dari Desa Huaulu, penyelidikan
Ikhtiar Hatta seorang kolega lain menemukan, satu marga yang sedari
dulu berhak untuk jabatan raja tak pernah menampik asal-usul
pendatangnya. Mereka bahkan memitoskan dirinya datang ke pulau ini
beberapa abad lalu dengan piringan terbang. Mereka lantas mengumpulkan
marga-marga lain, yang sebagian dari antaranya muncul dari tanah, untuk
membangun desa.
Saya bisa menyuguhkan padanan-padanan serupa di tempat lain. Namun,
intinya, di sini menjadi pendatang adalah sesuatu yang dibanggakan
karena mereka dianggap mempunyai kesaktian tak tercerna. Pendatang
memiliki entah kemampuan gaib untuk menyembuhkan, kekuatan menaklukkan
lawannya, atau kecerdasan tak terbandingkan.
Satu narasi yang marak dalam mitos-mitos Indo-Eropa, sebagai
perbandingan lagi, dimulai dengan ksatria asing datang ke satu kerajaan
yang gonjang-ganjing. Dengan kemampuan yang tak dimiliki penduduk
setempat, ia lantas mengatasi kemuskilan yang ada. Kedamaian kembali.
Raja pun menikahkannya dengan putrinya dan sang ksatria berhak atas
kerajaannya.
Apakah aneh bila pola cerita ini sama dengan kisah asal muasal
sultan-sultan berketurunan Arab di Nusantara—seorang saudagar Arab
menyembuhkan putri sebuah kerajaan dan lantas dikawinkan dengannya?
Semestinya tidak. Dan faktanya, kita masih akan menemukan narasi berpola
serupa dalam pusparagam variasinya di banyak tempat.
Intinya? Intinya, kita punya kecenderungan untuk mengartikan
kemisteriusan pendatang sebagai tanda mereka menyimpan kuasa tak
terperi. Orang-orang mengklaim diri bagian dari pendatang untuk tercitra
memperoleh aura kemisteriusan tersebut. Namun, seperti juga kata Thomas
Hobbes, apa pun yang tak terperi memiliki "kekuatan tak terbatas untuk
mendatangkan faedah atau menyakiti".
Kita, artinya, akan selalu mendamba-dambakan pendatang sebagai sumber
kekuatan. Tetapi, kita juga senantiasa akan mengecamnya selaku
ancaman—bayangan kepunahan diri kita.
Itulah yang gamblang nampak pada peristiwa-peristiwa pengusiran
pendatang. Retorika yang tak pernah absen, baik pada momen Brexit maupun
serentengan konflik yang meruyak di Jakarta, Sampit, Ambon antara
1998-2004, adalah pendatang menyerobot pekerjaan dan menguasai
perekonomian setempat.
Tak peduli pendatang tersebut dilekatkan sebagai orang Islam, Kristen,
Jawa, Tionghoa, Madura, atau Buton, mereka adalah kekuatan asing yang
bila tak ditangani selekasnya akan menggusur keberadaan orang-orang
asli. Dan betapapun indikasi-indikasi yang ada menunjukkan pendatang
membuka lapangan pekerjaan baru, menggerakkan ekonomi, ketakutan bawaan
ini tak pernah mengindahkan semua itu.
"Kami tak mau seperti orang Aborigin," seseorang pernah menyampaikan pada satu waktu. Ketakutan mengalami Aboriginisasi—kehilangan semuanya di tanahnya sendiri—saya bisa katakan, nyata. Nyata dan berkembang marak.
"Kami tak mau seperti orang Aborigin," seseorang pernah menyampaikan pada satu waktu. Ketakutan mengalami Aboriginisasi—kehilangan semuanya di tanahnya sendiri—saya bisa katakan, nyata. Nyata dan berkembang marak.
Dan, kalau ada yang dibuktikan dengan kegegaran Brexit, kemasygulan ini
tak pernah ada hubungannya dengan seberapa modern atau cerdas sebuah
masyarakat. Anda pun, saya percaya, tak jarang menemukan orang-orang
terpelajar justru percaya penuh kehidupan kita dikendalikan kekuatan
asing tak kasat mata. Bedanya, sentimen ini terdengar lebih meyakinkan
di mulut mereka. Lebih tertata. Lebih berkelas.
Tak Ada Monster dalam Gelap
Dus, apa yang terjadi belakangan ini—Brexit, naik daunnya Trump—tak lain
dari dampak politisasi sentimen ini di antara elit-elit tak bertanggung
jawab. Kemisteriusan pendatang disulap menjadi isyarat bahwa mereka
adalah monster dalam gelap di balik setiap kemalangan kebanyakan
penduduk. Dan kedudukan minoritas pendatang secara politik menjadikan
mereka kesulitan bersuara membalik persepsi ini.
Susah pekerjaan. Salah siapa?
"Pendatang!"
Bom. Salah siapa?
"Pendatang Islam!"
Demokrasi, akhirnya, banting setir menjadi serangkaian pengambinghitaman
tak berdasar. Apa yang bisa dilakukan Boris Johnson, pendukung
mati-matian Inggris meninggalkan UE, setelah Brexit benar-benar terjadi?
Apa yang akan dilakukan Donald Trump andai ia benar-benar terpilih
menjadi presiden?
Mereka hanya akan menjumpai bahwa kenyataan tak pernah sesederhana yang
mereka kampanyekan. Perekonomian Inggris tak dapat tercerabut semudah
itu dari Eropa. Kolom Johnson di harian Telegraph menyampaikan
bahwa selepas Brexit Inggris tetap akan menikmati kemudahan sebagaimana
pada masa tergabung di UE. Bisnis-bisnis tetap dapat mengakses pasar
Eropa tanpa halangan. Sistem imigrasi yang humanis akan dibangun
sehingga orang-orang tetap leluasa lalu lalang bermukim, bekerja, atau
berkuliah di negara lain seputaran Eropa.
Lalu, untuk apa sedari awal ia susah-susah mengampanyekan Inggris untuk meninggalkan UE? Dan Trump? Bila Trump memang mau mengusir semua imigran tak tercatat
Meksiko dari tanah AS, ia tak akan mungkin melakukannya tanpa
mengguncang perekonomian negaranya terlebih dahulu. Menghilangkan tujuh
juta pekerja, jelas, bukan hal yang akan berfaedah untuk bisnis. Trump,
seorang taipan, seharusnya tahu ini.
Ironi dari modus para politisi ini seharusnya sudah tak asing buat kita.
Ingat Orde Baru. Kendati rezim sadar mereka bertumpu pada
konglomerat-konglomerat tertentu yang kebetulan dari komunitas etnis ini
untuk menjadi mesin uangnya, rezim memelihara diskriminasi terhadap
Tionghoa lewat berbagai kebijakannya. Agar apa? Agar mereka dapat
menjadi kambing hitam pada saat diperlukan.
Ketika amarah masyarakat memuncak kepada pemerintah mengiringi krisis
1998, kita tahu, katup ini dilepas. Komunitas Tionghoa serta merta saja
menjadi sasaran gelombang kerusuhan yang saking sistematisnya
penyelidikan Tim Gabungan Pencari Fakta menyiratkan mustahil bila ia tak
diatur.
Sayang, betapapun kita tak bersimpati dengan kebiasaan
mengambinghitamkan pendatang ini, ia adalah kebiasaan yang nikmat.
Kenikmatannya adalah kita jadi tahu ke mana amarah mau diarahkan. Dan
kalau Anda tahu nikmatnya menyalahkan orang, Anda tentu juga tahu tidak
enaknya tak ada yang bisa disalahkan. Kita merasa tak berdaya. Gamang.
Bingung.
Untuk sekadar merasa nikmat inilah, kita memilih untuk buta. Kita
memilih untuk menyalahkan yang tidak kita ketahui dan tidak mengetahui
apa yang kita alami.
Kita memilih untuk percaya kepada para demagog.
********

0 Reviews:
Post a Comment