Keluarga dan kerabat Ketua KPK Husni Kamil Manik menangis saat prosesi
pemakaman di TPU Jeruk Purut, Jakarta, Jumat (8/7).
INDOPOST, JAKARTA-Beredarnya postingan di jejaring sosial Facebook wajah Almarhum Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Husni Kamil Manik yang dinilai tak wajar karena terdapat bercak merah di media sosial direspons pihak keluarga.
Pihak keluarga pun sudah membaca opini atau pendapat Ketua
Umum Muballigh se-Indonesia, Ali Mochtar Ngabalin di jejaring sosial
Facebook belum lama ini mengenai kematian Husni Kamil Manik.
Kakak kandung Almarhum Husni, Muhammad Arfanuddin Manik
membenarkan bahwa memang wajah Almarhum Husni Kamil Manik sempat
terdapat bercak merah, sebagaimana yang beredar di media sosial (Medsos)
dan diperbincangkan banyak netizen.
“Ketika dia meninggal, ada kelihatan seperti itu, tapi
setelah dimandikan, itu bersih, klir,” ujar Muhammad Arfanuddin Manik
saat dihubungi, Sabtu (9/7).
Ia mengakui demikian karena ikut memandikan jenazah
Almarhum Husni Kamil Manik. ”Kita lihat di Medsos, ya kita
senyum-senyum aja. Di Negara kita Indonesia raya yang merdeka ini, yang
baik pun itu bisa saja besok jadi rusak,” katanya.
Bahkan ia mengkritik opini atau pendapat Ali Mochtar
Ngabalin di jejaring sosial Facebook belum lama ini mengenai kematian
Husni Kamil Manik.
“Yang ngomong itu, katanya alim mengerti agama, tapi dalam
konteks ini dia tidak memakai itu gitu lho, yang bilang itu kan Ali
Mochtar Ngabalin, harusnya sebagai umat muslim ya sudah selesai ya
sudah, ngapain dikomentari yang tidak-tidak,” cetus dia.
Arfanuddin juga mempertanyakan netizen atau siapapun
termasuk Ali Mochtar Ngabalin yang berspekulasi mengenai kematian
Almarhum Husni Kamil Manik.
“Kalau kita beranggapan seperti ini, dia membuat opini
seperti itu tujuannya apa? Yang diuntungkan itu kan satu kelompok,
apakah dia tidak suka dengan almarhum atau dia dibayar oleh kelompok
tertentu untuk membuat opini itu,” pungkasnya.
Diketahui, jenazah Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Husni
Kamil Manik disarankan diotopsi oleh tim dokter ahli forensik yang
independen. Saran itu disampaikan Ketua Umum Muballigh se-Indonesia, Ali
Mochtar Ngabalin, dalam tulisannya yang diunggah di jejaring sosial
Facebook belum lama ini.
Sebab, Ngabalin yang juga politikus Partai Golkar ini
curiga Husni Kamil Manik meninggal dunia bukan karena sakit, melainkan
diracun. Kecurigaan itu muncul setelah menyaksikan wajah Almarhum Husni
saat melayat ke rumah duka, Kamis 7 Juli 2016.
(atl)
