Presiden Libanon, Michel Aoun
BEIRUT - Presiden Lebanon menekankan persatuan rakyat Lebanon untuk mempertahankan perbatasan negara ini.
"Kondisi saat ini tidak akan mengizinkan rezim Zionis (Israel) mengagresi perbatasan Lebanon," kata Michel Aoun dalam wawancara dengan jaringan televisi al-Sumariya Irak ketika menyinggung pengulangan perang dengan Israel pada tahun 2006.
Ia menambahkan, kondisi di kawasan juga tidak berbeda, di mana kondisi sekarang tidak akan membiarkan Israel melewati perbatasan Lebanon.
Pada 12 Juli hingga 14 Agustus 2006, Israel yang didukung sejumlah negara Arab, Eropa dan Amerika Serikat menginvasi Lebanon, namun pasca 33 hari agresi tersebut, pasukan Israel ditarik mundur karena kegigihan perlawanan Hizbullah Lebanon.
Presiden Lebanon lebih lanjut menyinggung pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson. Di hadapan Menlu AS, Aoun menegaskan pembelaan atas hak-hak perbatasan maritim Lebanon.
Sebelumnya, Menteri Peperangan rezim Zionis Israel ,Avigdor Lieberman mengklaim bahwa Blok 9 dan gas Lebanon di Laut Mediterania sebagai milik Israel.
Selama beberapa pekan terakhir, langkah Israel untuk membangun tembok pembatas di perbatasan dengan Lebanon dan klaim Tel Aviv atas Blok 9 minyak dan gas negara Arab itu telah meningkatkan ketegangan antarkedua belah pihak.
Di bagian lain pernyataannya, Presiden Lebanon menyinggung upaya negaranya untuk menumpas terorisme.
"Lebanon dan Irak menjadi target serangan kelompok-kelompok teroris. Kami memerlukan koordinasi permanen untuk menumpas kejahatan dan sel-sel teroris yang tersembunyi di kedua negara ini," pungkasnya.
Presiden Lebanon tiba di Irak pada hari Selasa, 20 Februari 2018 untuk bertemu dan berdialog dengan para pejabat senior Baghdad. Kunjungan ini menjadi lawatan pertama kali presiden Lebanon setelah tumbangnya rezim diktator Saddam.
(ra/ph/inf)
