ilustrasi
Penulis: Marlin Bato
(Penyuara Aspirasi Indonesia)
Tak ada yang menduga, hotel Alexis menjadi korban keganasan pemangkuh kebijakan. Tak ada yang menduga juga, Alexis ditutup begitu cepat oleh gubernur baru Anies Baswedan. Jika ditarik garis riwayatnya, saban hari, selama setahun belakangan, Alexis menjadi santapan renyah publik nasional dan para awak media. Hampir tiap hari, isu Alexis selalu menjadi perdebatan sengit baik dikalangan masyarakat awam, kaum intelektual, pengamat, pejabat eksekutif, para aktivis hingga kaum agamis yang menentang keras keberadaan prostitusi di Jakarta.
Berbicara soal Alexis, sebenarnya mudah untuk mengurai benang merah. Jika mau jujur, Alexis adalah korban dari pertengkaran Ahok dengan Lulung berapa tahun silam. Pasalnya, persoalan ini bermula dari peristiwa penggusuran Tanah Abang. Konon, wilayah ini dikabarkan bertahun-tahun telah dikuasai oleh Lulung.
Namun, saat Ahok didapuk jadi Gubernur menggantikan Jokowi, proses penertiban kawasan ini diterapkan secara agresif dan represif. Sehingga terjadilah penggusuran demi penggusuran. Lulung berang, namun tak mampu berbuat banyak. Ia berusaha melawan untuk menghentikan langkah Ahok memporak-porandakan tanah abang, lahan yang menjadi tulang punggung dan memori masa sulit. Tetapi bukan Ahok namanya jika mau bertekuk lutut.
Dan, Lulung pun pasrah, dari pada dibuat malu dihadapan publik, lebih baik diam seribu bahasa sambil mengelus dada. Sementara, Ahok makin leluasa memecut penghuni-penghuni tanah abang yang membandel. Sejak itu, Lulung mulai tampak beringas melihat Ahok. Setiap saat dia mulai mencermati langkah Ahok. Dia tahu, Ahok bakal berbuat salah.
Penggusuran Kalijodo Arena Pertarungan Para Jagoan
29 Februari 2016, publik dikejutkan oleh berita yang hampir mustahil. Sejumlah media menurunkan headline; "Ahok Gusur Kalijodo'. Ahok berhasil menggusur kawasan prostitusi dan perjudian paling bersejarah meski mendapat pertentangan dan penolakan keras dari berbagai pihak. Langkah Ahok ini, dinilai paling berani, sebab sudah puluhan tahun kawasan ini tak pernah tersentuh. Bahkan hukum-pun seperti tak bertaring jika masuk zona merah ini. Usut punya usut, ternyata kabarnya, kawasan ini mendapat dukungan aparat-aparat korup yang membuat petugas rendahan jadi mandul. Kawasan bisnis lendir ini menjadi ladang paling menggiurkan bagi semua yang terlibat disini, termasuk aparat-aparat yang bermental bobrok.
Ahok, sesuai namanya "Tjahaja Purnama" selalu membawa terang untuk menumpas segala perilaku buruk kaum bromocora. Hanya butuh 20 hari untuk meluluh-lantahkan semua potret kelam arena bisnis lendir ini. Tentu saja misi Ahok ini dihadang oleh berbagai elemen kekuatan, termasuk preman sekelas daeng Aziz hingga anggota legislatif DKI Abraham Lunggana (Lulung) dkk yang lacur membenci Ahok. Dalam kasus Kalijodo, Lulung terus menguji keberanian Ahok untuk segera melibas tempat ini. Provokasi demi provokasi terus dilancarkan membuat tekad Ahok jadi bulat hanya satu kata yaitu; "Gusur".
Sebelum digusur, selama berhari-hari semua mata tertuju di kawasan ini. Tantangan demi tantangan datang mengusik nurani Ahok untuk segera menumpas Kalijodo. Ahok semakin gencar, namun tantangan juga lumayan berat ketika berhadapan dengan daeng Aziz, penguasa kawasan yang paling misterius. Daeng Aziz tetiba muncul ke publik dan melakukan perlawanan secara terbuka. Daeng Aziz bahkan tak segan sowan ke beberapa figur berpengaruh termasuk haji Lulung agar dapat menghentikan langkah Ahok. Sejak itu, Lulung mulai terlihat membela Daeng Aziz, dan membading-bandingkan Kalijodo dan Alexis.. Namun apa daya, semua usaha Daeng sia-sia. Justru dirinya sendiri tersandung kasus pidana pencurian arus listrik di Kalijodo. Seketika, suaranya jadi bungkam, potretnya jadi buram..!!
Dan, 29 Februari tiba-tiba publik terhenyak. Ahok bemar-benar menggusur Kalijodo. Situasi mirip seperti perang, lantaran masing-masing pihak dikabarkan akan mempertahankan daerah ini dengan berbagai daya hingga pengorbanan terakhir. Ribuan pasukan dilengkapi peralatan tempur seperti baracuda, water canon dan senjata pemukul massa dikerahkan menerobos tembok-tembok rumah pelacuran Kalijodo. Sejumlah alat berat dikerahkan menggusur tempat ini. Dalam hitungan jam, semua bangunan rata dengan tanah. Hanya hamparan puing yang terlihat sejauh mata memandang. Satu langkah, Ahok membuktikan keberanian dihadapan publik tanah air, terkhusus Lulung yang selalu berjibaku dengan Ahok. Semua lawan-lawan Ahok terdiam, tetapi tetap saja tak menyudahi hujatan-hujatan yang berdesingan bak peluru yang bertabur dilangit. Merasa dipecundangi, Lulung pun, cepat memutar otak, mencari cara menyudutkan Ahok yang sedang dipuja oleh pendukungnya. Lulung mulai menyandang amunisi baru; Alexis. Satu kalimat lugas; "Lulung menantang Ahok untuk menggusur Alexis".
Alexis Yang Selalu Eksis Dihati
Pasca penggusuran Kalijodo, popularitas Ahok semakin moncer. Sampai-sampai, media internasional selalu mewartakan sepak terjangnya di Jakarta. Oleh media-media terkemuka, ia bahkan kerap dijuluki 'Lee Kuang Yew' dari Belitung Timur. Ahok tenar dalam sekejap membuntuti ketenaran Jokowi. Namun ketenaran Ahok selalu saja dibayangi oleh retorika Lulung. "Tutup Alexis.. Jangan hanya berani sama Kalijodo, Alexis juga dong..!! Begitu kira-kira sepenggal pernyataanya". Dia tahu, Ahok tidak terlalu ambil pusing dengan prostitusi di hotel-hotel elit, karena menurutnya tempat-tempat tersebut lebih steril dan tidak kumuh.
Lagi pula, menurut Ahok, tidak mudah menutup hotel-hotel yang ada ijin dan perda yang mengatur. Bahkan Ahok pernah sesumbar akan melegalkannya prostitusi dan miras, asal tidak dengan narkoba. Sampai-sampai, Ahok pernah bergurau; "Di Alexis, Surga ada di lantai tujuh, bukan di telapak kaki ibu." Sambil tertawa renyah seolah ingin meledek Lulung. Namun, guyonan Ahok ini justru menjadi santapan paling gurih bagi media-media tanah air. Bahkan sempat trending topic beberapa pekan. Alhasil, nama Alexis semakin populer dan semakin eksis dihati masyarakat jagat nusantara.
Pertarungan Lulung versus Ahok terus berlanjut. Keduanya saling melempar retorika. Lulung terus mengejar Ahok untuk membredel hotel yang terletak di jalan RE Martadinata Jakarta Utara tersebut. Namun Ahok tak bergeming, dia tetap tegar berprinsip, jika terbukti, pasti tak ada ampun bagi Alexis. Yang jelas, visi Ahok terutama adalah memberantas narkoba, karena narkoba membunuh nasib generasi muda. Sementara, prostitusi dan miras itu hanya masalah sosial, moral dan penyakit masyarakat, biarlah Tuhan sendiri yang berwenang mengadili. Mungkin demikian yang terakumulasi dalam pemikiran Ahok. Imbas dari perang melawan narkoba, seluruh denyut operasional diskotik Stadium dan Milles dihentikan paksa karena ditemukan narkoba. Pasca penutupan Stadium dan Milles, Lulung mulai meredah dan menghimpun kekuatan di DPRD untuk mengadang Ahok lewat kasus sumber waras. Seketika, kasus Alexis mulai meredup.
Janji Kampanye Yang Harus Ditunaikan
Pada sesi debat kandidat di Hotel Bidakara menjelang pencoblosan beberapa waktu yang lalu, sebenarnya respon publik pada keduanya wajar-wajar saja. Masing-masing pendukung berasumsi dan beropini pada jagoannya. Namun yang menarik, debat ini di isi dengan retorika saling sindir dua pasang kandidat antara Ahok-Djarot da Anies-Sandi. Tak terkecuali, isu Alexis mencuat kembali. Kalimat Alexis meluncur deras dari mulut Anies. Ahok, menurut Anies tak mampu menutup Alexis. Tapi Ahok tak mau kalah, dia membeberkan bahwa dia sudah berhasil menutup Stadium dan Milles.
Berawal dari ini, isu Alexis bergulir begitu kencang. Dikipas-kipas lagi hingga makin membara. Ditambah lagi dengan menguatnya isu SARA. Maka, lengkap sudah perpaduan isu SARA dan Alexis seolah menjadi pembenaran, bahwa Ahok tak berdaya menutup Alexis, diperkuat dengan isu penistaan. Gara-gara ini, pasangan Ahok-Djarot tahkluk.
Warga DKI Jakarta ternyata lebih meyakini retorika Anies. Dan, alexis pun menjadi target program pertama yang harus dieksekusi, agar memenuhi tuntutan, hasrat dan ambisi segelintir orang. Jadilah, Alexis harus ditutup. Satu janji kampanye sudah ditunaikan.
*****
