Fidel Alejandro Castro Ruz, Pemimpin Revolusi Kuba
(Bagian terakhir)
Di dunia ini, sangat sedikit sekali ada
politisi yang ketika meninggal dunia meninggalkan warisan berharga dan
namanya dikenang. Kebanyakan politisi, nama mereka disebut-sebut ketika
masih berada di puncak kekuasaan. Namun setelah kekuasaan mereka
berakhir atau meninggal dunia, mereka pun dilupakan. Tidak banyak tokoh
yang kehidupannya bisa mempengaruhi kehidupan orang lain ketika mereka
berkuasa dan setelahnya, bahkan hingga meninggal dunia pun, mereka masih
mewariskan nilai-nilai besar.
Salah
satu politisi tersebut adalah Fidel Alejandro Castro Ruz, pemimpin
revolusi Kuba dan penguasa negeri ini selama hampir setengah abad. Ia
berkuasa di Kuba hingga tahun 2008. Fidel berkuasa dari 2 Desember 1976
hingga 24 Februari 2008 meskipun secara de facto berakhir pada 31 Juli
2006 dan menyerahkan kekuasaannya sementara pada adiknya, Raul Castro
disebabkan kesehatan yang bermasalah. Meskipun selama 10 tahun Fidel
tidak memegang kekuasaan secara resmi, namun ia memantau transformasi
Kuba dan pada akhirnya pada tanggal 25 November 2016, televisi
pemerintah mengumumkan berita meninggalnya.
Salah
satu warisan terpenting Fidel yang ditinggalkannya adalah kegagalan
hegemoni Amerika Serikat di Kuba. Revolusi Kuba yang dipimpin Fidel
mencapai kemenangan ketika AS berada di puncak kekuasaan dan
dominasinya. Kuba pada tahun-tahun itu berada di bawah jajahan tidak
resmi AS dan Washington mengontrol semua pilar politik, ekonomi dan
budaya di negara ini. Namun dominasi tersebut akhirnya berakhir oleh
gerakan revolusi yang dipimpin Fidel.
Di
masa tersebut, dominasi AS tidak hanya sebatas di Kuba, namun di
seluruh Amerika Latin, yaitu dari Mexiko hingga Chili dan Argentina.
Posisi Kuba sangat penting bagi AS mengingat negara ini hanya berjarak
puluhan mil dari Negeri Paman Sam itu. Ketika Fidel dan rekan-rekan
seperjuangannya bergerak dari Pegunungan Sierra Maestra
ke arah Havana, tidak banyak yang membayangkan bahwa revolusi rakyat
Kuba yang dipimpin Fidel akan mampu mengusir orang-orang Amerika dari
negara mereka.
Setelah
mencapai kekuasaan, Fidel tidak ragu lagi untuk menghancurkan tatanan
yang dipaksakan AS terhadap Kuba. Ia mengubah Kuba menjadi negara
pertama yang anti-AS di belahan bumi barat. Selama setengah abad, Fidel
mengambil sikap anti-AS dan menunjukkan bahwa rakyat di negara kecil
seperti Kuba mampu menundukkan kekuatan adidaya seperti AS.
Perlawanan
Kuba terhadap AS di bawah kepemimpinan Fidel tentu saja tidak
dibiarkan begitu saja oleh Washington. Sejak kemenangan revolusi Kuba,
AS memberlakukan berbagai sanksi ekonomi terhadap negara ini. AS
melarang segala bentuk perdagangan, bisnis dan bahkan larangan
perjalanan bagi warganya. Ekonomi Kuba yang di masa itu sepenuhnya bergantung kepada ekonomi AS terguncang akibat embargo dan tekanan Washington.
Sebagian
pihak yang anti-revolusi memperkirakan bahwa umur pemerintahan Fidel
tidak akan bisa bertahan selama beberapa bulan. Mereka meyakini,
perlawanan rakyat Kuba terhadap AS akan gagal dan muncul ketidakpuasan
publik atas krisis parah yang melanda negara mereka. Namun siapa sangka,
pemerintahan yang diperkirakan tidak akan berumur lebih dari beberapa
bulan itu ternyata masih berlanjut hingga setengah abad. Bantuan ekonomi
di masa Uni Soviet sedikit banyak telah membantu Kuba selamat dari
keruntuhan ekonomi, bahkan pasca runtuhnya Uni Soviet, Kuba mampu
berdiri di atas kakinya sendiri.
Pengalaman
Kuba bisa menjadi warisan bagi bangsa-bangsa pejuang di seluruh dunia
untuk melepaskan ketergantungan mereka kepada negara-negara adidaya dan
melindungi independensinya serta tidak menyerah dan berkompromi hanya
disebabkan kepentingan-kepentingan ekonomi jangka pendek. Perjuangan
berkelanjutan rakyat Kuba untuk mencapai kemandirian telah menggagalkan
ambisi dan tujuan AS termasuk untuk mengubah pemerintahan komunis di
Kuba, bahkan AS terpaksa mundur dan sepakat mencabut sebagian embargonya
yang telah berlaku selama 50 tahun.
Fidel
Castro tidak hanya mewariskan perjuangan melawan hegemoni AS dan
tekanan politik dan ekonomi Barat, namun juga memberikan pelajaran
berharga kepada negara-negara lainnya terutama negara-negara Amerika
Latin bahwa dalam kondisi sulit pun mereka mampu mencapai cita-cita
revolusi seperti mencapai keadilan, kemerdekaan, kemandirian dan
independensi.
Sepanjang paruh kedua abad ke-20, berbagai gerakan perjuangan di dunia tertarik dengan perjuangan Fidel Castro dan Ernesto Che Guevara,
bahkan sebagian dari gerakan non-komunis di Asia dan Afrika memuji
Fidel atas perlawanannya terhadap imperalisme AS. Perkembangan di Chile
atau di Nikaragua juga tidak terlepas dari pengaruh keberhasilan
perjuangan Fidel di Kuba.
Sejak
kemenangan revolusi Kuba pada tahun 1959, AS berusaha mencegah
terjadinya kebangkitan rakyat yang bisa mengubah identitas pemerintah
politik di belahan bumi barat. Oleh sebab itu, pada tahun 1973 AS
menggulingkan Salvador Guillermo Allende Gossens di Chile dan menyeret Nikaragua ke dalam perang saudara setelah kemenangan revolusi Sandinista.
Meski dekimian, AS tidak pernah mampu untuk memadamkan kebangkitan
rakyat di kawasan Amerika Latin yang terinspirasi dari perjuangan Fidel
Castro. Pasca kematian Fidel Castro, Amerika Latin diperkirakan akan
tetap di bawah pengaruh revolusi Kuba. Pengaruh ini hingga membuat
Barack Obama, Presiden AS memuji peran bersejarah Fidel.
Fidel
Castro telah berhasil memperjuangan Kuba untuk terbebas dari hegemoni
dan dominasi kekuatan asing. Namun terdapat perbedaan pandangan yang
serius terkait ekonomi Kuba yang diwariskan Fidel. Para penentang Fidel
mengklaim bahwa Kuba hari ini adalah sebuah negara miskin, bangkrut dan
terjerat oleh inefisiensi ekonomi komunis. Menurut klaim mereka, Fidel
dan Raul Castro telah menahan Kuba untuk tetap dalam periode
pra-industri dan tidak membiarkan negara ini mengikuti perkembangan
pesat dunia modern.
Namun
bukti-bukti tak terbantahkan justru menunjukkan adanya kebanggaan
nasional di Kuba. Kesenjangan di antara masyarakat Kuba terhapus dan
terjadi peningkatan yang dramatis di sektor kesehatan dan pendidikan.
Kuba selama bertahun-tahun menjadi penyedia bantuan pendidikan dan
perawatan kesehatan ke beberapa negara yang sangat miskin dan
terbelakang di Amerika Latin dan Afrika. Dokter-dokter Kuba memberikan
pelayanan medis kepada orang-orang yang membutuhkan di luar negeri tanpa
mengharap imbalan apapun.
Selain
itu, para ilmuwan Kuba juga termasuk menjadi para pelopor dalam
penemuan dan produksi vaksin untuk penyakit yang sulit disembuhkan.
Pelayanan-pelayanan tersebut menunjukkan bahwa perlawanan terhadap
kekuatan adidaya menuai prestasi-prestasi yang bahkan tidak bisa
diingkari oleh musuh-musuh beratnya. "Benih-benih" yang ditebarkan di
berbagai wilayah tertinggal oleh Fidel dan para pemimpin Kuba lainnya
selama beberapa dekade ini membawa kebanggaan dan kehormatan bagi rakyat
Kuba. Pasca meninggalnya Fidel, reputasi Kuba tersebut diharapkan akan
terus terpelihara.
Penyerahan
kekuasaan merupakan salah satu warisan dan pelajaran lainnya dari Fidel
Castro. Kebanyakan politisi di dunia ingin terus berkuasa dalam kondisi
apapun dan hanya kematian yang bisa memisahkan mereka dari kekuasaan.
Namun Fidel tidak demikian. Ia secara sukarela mengundurkan diri dari
kekuasaannya. Ia menyerahkan kekuasaan kepada saudaranya, Raul Castro
ketika ia menjadi pemimpin Partai Komunis Kuba dan Presiden negara ini.
Fidel bisa saja mempertahankan kedudukannya tersebut hingga sebelum
kematiannya, yaitu hingga 10 tahun setelahnya.
Pada
tahun 2008, tidak ada faktor apapun yang mengancam kekuasaan Fidel
kecuali penyakitnya. Ketika ia memahami kondisinya akibat sakit, ia
menyiapkan transisi kekuaasaan dengan damai. Awalnya, Fidel menyerahkan
urusan negara kepada Raul untuk sementara, setelah itu diserahkan secara
resmi.
Presiden
baru Kuba tetap komitmen dengan prinsip-prinsip revolusi dan secara
bertahap merealisasikan reformasi politik, ekonomi dan sosial. Salah
satu reformasi itu adalah pengakuan resmi terhadap kepemilikan swasta di
sejumlah sektor ekonomi, di mana keputusan ini sebenarnya bertentangan
dengan tata kelola pemerintahan Fidel sebelumnya, namun Fidel menyetujui
reformasi itu.
Peralihan
kekuasaan di Kuba terjadi secara damai ketika di banyak negara,
transisi kekuasaan seperti itu biasanya diwarnai dengan konflik,
pertumpahan darah dan instabilitas. Cara pengunduran diri Fidel dari
kekuasaan dan empati terhadap reformasi di Kuba membawa kehormatan
tersendiri bagi pemimpin Kuba ini, di mana namanya ditempatkan di
samping Nelson Mandela yang juga secara suka rela mengundurkan diri dari
jabatannya sebagai Presiden Afrika Selatan.
Fidel
Castro –seperti halnya para politisi berpengaruh lainnya di dunia–
meninggalkan warisan yang sebagiannya patut dipuji dan dihargai dan
sebagian lainnya bisa dikritik. Namun tak diragukan bahwa hingga
tahun-tahun ke depan peran dan pengaruh Fidel akan mempengaruhi
kehidupan jutaaan warga Kuba dan non-Kuba, baik mereka yang berduka atas
kematiannya maupun yang bahagia atas meninggalnya Bapak Revolusi Kuba
ini.
Sekian...!!!
