# Group 1 User-agent: Googlebot Disallow: /nogooglebot/ # Group 2 User-agent: * Allow: / Sitemap: https://www.infiltrasi.com/sitemap.xml
Latest News
Sunday, October 9, 2016

Mumi: Tubuh Kering Suku Dani dari Lembah Baliem Papua

Jari-jari kaki yang sudah mengering menjadi mumi



Sesosok tubuh kering duduk dengan kaki terlipat. Wajah berupa tengkorak menganga dan tengadah menatap langit. Pakaian lengkap khas pria Papua berupa koteka dan beberapa aksesoris pun masih melekat di tubuhnya. Suasana mencekam sesaat terasa melingkupinya. Sosok itu adalah seorang panglima perang Suku Dani yang sudah menjadi mumi berusia 370 tahun lebih.

Tradisi memumikan jasad manusia yang telah meninggal tidak hanya terjadi di Mesir saja. Indonesia pun memiliki tradisi ini. Suku Dani, sang penguasa Lembah Baliem adalah pelaku tradisi ini. Hal ini terbukti dari adanya peninggalan berupa mumi berusia 370 tahun lebih yang masih disimpan dan terawat di desa Jiwika, distrik Kurulu, Wamena, Papua.

Seperti penjelasan sebelumnya, mumi ini adalah seorang panglima perang suku Dani yang bernama Wimotok Mabel. Sesuai dengan namanya yang berarti ‘perang terus’, pria ini memang gemar berperang selama hidupnya. Hingga akhirnya Wimotok berangsur tua dan sakit, namun sebelum ajal menjemput, ia berpesan agar setelah meninggal ia tidak dibakar seperti tradisi Dani pada umumnya. Wimotok minta untuk dimumikan. Menurut warga kampung itu, hal ini dilakukan agar jasad sang panglima menjadi sebuah peringatan yang mensejahterakan seluruh keturunannya di masa mendatang.

Proses memumikan jasad orang meninggal tidaklah sederhana. Caranya tergolong unik, jasad diposisikan dalam keadaan duduk, lengkap dengan pakaian kebesarannya. Kemudian jasad diasapi di depan api unggun selama satu bulan di dalam Honai Pilamo, rumah khusus kaum pria. Setelah itu, jasad akan dibungkus daun pisang hingga mengeras menjadi mumi. Proses ini akan memakan waktu sekitar 5 tahun. Untuk perawatan mumi, kaum pria akan melumurinya dengan minyak babi dan menyimpannya setiap malam di depan api unggun dalam Pilamo. Hal ini akan membuat mumi semakin awet tanpa harus khawatir rusak karena rayap.

Wisatawan yang ingin melihat mumi ini dapat datang ke desa Jiwika, distrik Kurulu yang ditempuh sekitar 30 menit dengan mobil dari kota Wamena. Jalan menuju desa ini relatif sudah baik dan aman. Hanya, yang perlu diingat adalah untuk mengeluarkan mumi ini biasanya warga desa akan mengenakan biaya sebesar Rp 300.000. Memang cukup besar, namun menjadi layak mengingat begitu langkanya pengalaman yang didapat.

Di Lembah Baliem, sebenarnya terdapat lebih dari satu mumi. Tiga mumi terdapat di Kurulu, tiga lainnya di distrik Assologima, dan satu mumi perempuan di Kurima. Memang mumi sudah menjadi salah satu tradisi masyarakat Dani, namun keberadaannya kini semakin terkikis jaman dan hanya menjadi sebatas obyek wisata saja. Walaupun demikian, keberadaan mumi di suku Dani harus diacungi jempol dan diakui sebagai tradisi yang memperkaya khazanah budaya bangsa Indonesia.  

 Galerry



 Mumi sang Kepala Suku yang dikeringkan dalam keadaan jongkok


 Mumi Wimotok Mabel, Sang Kepala Suku yang berusia 370 tahun. Mumi ini diawetkan dengan asap dan bungkusan daun pisang selama 5 tahun


 Semua aksesoris yang melekat di tubuh mumi adalah aksesoris asli yang dipakai ketika sang Kepala Suku masih hidup


Semua aksesoris yang melekat di tubuh mumi adalah aksesoris asli yang dipakai ketika sang Kepala Suku masih hidup


 Seorang warga desa setempat yang bertanggung jawab terhadap keberadaan mumi Wimotok Mabel


 Wajah mumi Wimotok Mabel sang Kepala Suku
 


 Wimotok Mabel yang dimumikan dengan pakaian perang kebesarannya


(@phosphone/Indo)
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Mumi: Tubuh Kering Suku Dani dari Lembah Baliem Papua Rating: 5 Reviewed By: Infiltrasi