ilustrasi
Penulis: Olivia Armasi
Tanpa
mengurangi rasa empati dan bela sungkawa kepada keluarga Mirna, kesaksian saksi
ahli yang meringankan Jessica, mendorong saya sebagai bagian dari masyarakat
awam yang bukan ahli hukum dan bukan ahli racun ingin berbagi pendapat.
Masyarakat
punya akal, nalar dan logika. Opini dan logika masyarakat bisa menjadi kontrol publik terhadap
kinerja aparat.
Aparat
hukum tugas dan tanggung jawabnya adalah menegakkan Keadilan. Dan keadilan hukum bukan menang
kalah tapi benar atau salah. Adanya asas praduga tak bersalah,
Jessica sebagai terdakwa berhak mendapatkan perlakuan yang seadil-adilnya.
Berempati menjadi polisi, jaksa atau hakim dalam
menangani kasus hukum tewasnya Mirna yang minim bukti. Sementara, kasus tersebut disorot media dan menjadi perhatian
publik.
Desakan
dan ekspektasi publik yang tinggi terkuaknya misteri tewasnya Mirna Salihin, tak
pelak membuat aparat pusing tujuh keliling. Dengan kondisi minimnya bukti, padahal disisi lain prestasi aparat penegak
hukum diukur dari menang atau kalah dalam sebuah persidangan. Jika kasus berlarut-larut apalagi jaksa
tidak bisa membuktikan dakwaannya di pengadilan, mereka bakal dinilai
tidak becus dan dinilai berkinerja buruk.
Situasi
dan
kondisi tersebut, mendorong tindakan aparat cenderung mengabaikan
tanggungjawab utama sebagai penegak keadilan. Mereka berusaha sekuat
tenaga hanya untuk menang. Sehingga fakta-fakta yang menguntungkan
terdakwa, kesaksian
ahli yang meringankan sekalipun obyektif, cenderung dikesampingkan.
Pada
kasus Mirna, Kombes Krisna Murti yang naik daun gara-gara Sarinah dan Kalijodo beruntung
mendapat promosi dan dimutasi. Dia tidak lagi menjadi sorotan publik yang patut
dipertanyakan profesionalismenya. Yang agak apes adalah jaksa yang harus berjuang
keras mempertahankan argumentasi kebenaran versi mereka.
Keterangan
saksi-saksi ahli yang bertolak belakang dengan dakwaan menjadikan
kehebohan dan publik semakin tertarik akhir cerita kopi sianida. Dari
keterangan mereka, tewasnya Mirna memang tidak wajar tapi "sebab mati"
secara medis belum
bisa dipastikan. Artinya, tewasnya Mirna belum tentu dibunuh. Dari
tanda-tanda yang ada, bisa jadi kematian Mirna disebabkan faktor lain.
Misal, disebabkan racun bukan sianida atau kelainan kesehatan Mirna.
Sebenarnya sebab mati tersebut bisa diketahui secara pasti seandainya
dilakukan
otopsi.
Akibat
keterangan
yang kontradiktif diantara saksi ahli tersebut, dakwaan yang disusun
polisi dan jaksa menjadi penuh tanda tanya. Padahal untuk meyakinkan
publik dan hakim, cerita Mirna telah disusun sedemikian rupa. Dengan
kesimpulan akhir, Mirna pasti mati dibunuh
oleh Jessica menggunakan racun sianida, titik.
Minimnya
bukti dan tidak adanya motif, polisi dan jaksa berupaya melengkapi dengan keterangan,
asumsi dan opini saksi ahli untuk memperkuat dakwaannya.
Ada
ahli yang mempelajari rekaman CCTV. Walaupun tidak ada satupun rekaman yang memastikan
kapan sianida dituangkan pada kopi Mirna.
Ada
saksi ahli yang mengamati, membaca wajah hingga gerak-gerik gelisah dan mencurigakan Jessica.
Padahal gelisah banyak kemungkinan yang bisa menjadi penyebabnya. Kegelisahan
Jessica yang terbaca ahli, barangkali Jessica saat itu kebetulan sedang ada problem lain misalnya.
Ada
saksi ahli yang menyimpulkan bahwa Jessica adalah psikopat. Kesimpulan psikopat
adalah sebagai argumen pembenar terjadinya pembunuhan tanpa perlu motif. Bahkan
beredar rumor entah siapa yang menyebarkan kalau Jessica memiliki perilaku menyimpang.
Keterangan
saksi ahli yang meringankan Jessica, membuat jaksa galau dan panik. Terlihat reaksi
mereka saat menanggapi dan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada saksi ahli. Emosional dan tidak substansial.
Saksi
ahli pertama justru yang dipermasalahkan adalah administrasi keimigrasiannya. Saksi
berikutnya, sepertinya Jaksa enggan
mendengarkan penjelasan Djaja secara utuh. Pertanyaan dan pernyataan jaksa menggiring saksi bingung. Padahal dokter
Djaja adalah saksi ahli yang sangat penting diminta keterangannya.
Djaja menangani dan kontak langsung dengan jasad Mirna lebih awal
dibanding ahli-ahli yang lain.
Kesaksian
dr. Djaja, meluluhlantakkan skenario, opini dan cerita yang telah dibangun polisi
dan jaksa.
Dengan
dasar hasil visum yang sama mengapa kesimpulan ahli berbeda? Maka wajar jika kesimpulan
yang kontradikitif tersebut, masyarakat perlu mempertanyakan kinerja polisi
dan jaksa.
- Mengapa tidak dilakukan otopsi? padahal dengan dilakukan otopsi "sebab mati" menjadi jelas. Dan akan memudahkan polisi serta jaksa menyelesaikan tugasnya.
- Mengapa dr. Djaja sebagai ahli forensik dan menangani jasad Mirna tidak diikutsertakan dalam proses penyelidikan, penyidikan hingga penyusunan dakwaan?
- Hasil labfor forensik barang bukti botol berisi kopi mengandung kadar sianida tinggi. Menurut dr. Djaja dengan kadar tersebut bisa berakibat satu ruangan "teler", mestinya perlu didalami dan dibuktikan dalam persidangan;
- Jika kadar sianida di botol tinggi, mengapa sianida yang terdapat di lambung sangat kecil dan tidak menyebar keorgan tubuh yang lain. Kesimpulan Djaja, kadar sianida tersebut tidak cukup untuk membunuh manusia. Karena ilmu adalah berlaku universal seluruh dunia maka hakim sebelum memutuskan vonis perlu medapatkan keterangan ahli lain yang independen. Kalau perlu ahli ternama dan terpercaya dari luar negeri;
- Kadar sianida di botol yang sangat tinggi bisa membuat "teler" manusia dengan radius 500 m2. Sementara pengakuan dua pelayan cafe yang mencicipi kopi bekas Mirna hanya merasakan kebas? Mengapa tidak terjadi sesuatu yang fatal pada mereka? Menurut Djaja, rasa sianida seperti sabun. Djajapun menawarkan kalau tidak percaya pak Jaksa boleh nyoba ^_^;
- Keterangan Djaja, dari hasil visum warna lambung kehitaman, bibir dan kuku berwarna biru. Hal tersebut terjadi akibat kekurangan oksigen. Sedangkan keracunan sianida justru sebaliknya. Reaksi racun sianida berakibat lambung berwarna merah, tubuh menjadi kemerah-merahan. Mengapa tiba-tiba muncul photo jasad Mirna yang kemerah-merahan padahal hasil visum biru kehitaman. Perlu dipertanyakan apakah karena make up blush on atau rekayasa photoshop?
Bisa
saja Jessica memang benar pembunuh Mirna walau tanpa sianida. Tapi, jangan
paksakan
cerita kopi sianida menjadi penyebab tewasnya Mirna untuk menghukum
Jessica. Karena ilmu pengetahuan dunia tentang racun sianida bisa
menjadi kacau.
PR bagi aparat untuk mengungkap kejadian sebenarnya, secara profesional dan seadil-adilnya. Kinerja aparat jangan sampai dilandasi motivasi dan ambisi harus menang dalam persidangan, apalagi untuk kepentingan karir dan prestasi.
Satu nyawa manusia sangat berharga, cukup Mirna. Jangan sampai Jessica harus mati karena vonis yang tidak adil.
Pertanggungjawaban aparat hukum adalah dunia akhirat. Terlebih lagi hakim sebagai wakil Tuhan dibumi jangan sampai terjadi pengadilan sesat. Demi keadilan, lebih baik membebaskan seratus orang yang bersalah daripada menghukum satu orang yang tidak bersalah. Justice for all!
PR bagi aparat untuk mengungkap kejadian sebenarnya, secara profesional dan seadil-adilnya. Kinerja aparat jangan sampai dilandasi motivasi dan ambisi harus menang dalam persidangan, apalagi untuk kepentingan karir dan prestasi.
Satu nyawa manusia sangat berharga, cukup Mirna. Jangan sampai Jessica harus mati karena vonis yang tidak adil.
Pertanggungjawaban aparat hukum adalah dunia akhirat. Terlebih lagi hakim sebagai wakil Tuhan dibumi jangan sampai terjadi pengadilan sesat. Demi keadilan, lebih baik membebaskan seratus orang yang bersalah daripada menghukum satu orang yang tidak bersalah. Justice for all!
Salam Sianida...!!
