Capres dari Partai Demokrat Hillary Clinton hanya unggul lima poin atas
pesaingnya capres dari Partai Republik, Donald Trump, dalam hasil survei
terbaru. | (Istimewa)
INDOPOST, WASHINGTON - Jarak keunggulan calon
presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat, Hillary Clinton,
atas lawannya dari Partai Republik, Donald Trump, semakin tipis. Hasil
survei terbaru menunjukkan mantan First Lady AS itu hanya unggul 5 poin
dari Trump setelah sempat unggul 12 poin.
Dalam survei yang digelar pada 22-25 Agustus oleh Reuters/Ipsos, 41 persen pemilih cenderung memberikan suaranya kepada Hillary pada pemilu presiden AS yang akan digelar pada 8 November. Sementara 36 persen menyatakan akan memilih Trump, dan 23 persen memilih tidak akan mendukung keduanya seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (27/8/2016).
Sementara dalam survei yang melibatkan calon alternatif, Hillary memimpin dengan margin yang lebih kecil. Sebanyak 39 persen pemilih cenderung mendukung Hillary, 36 persen mendukung Trump, 7 persen untuk tokoh partai Liberty Gary Johnson, dan 3 persen untuk Jill Stein dari Partai Hijau.
Hillary selama ini kerap unggul atas Trump dalam sejumlah jajak pendapat/survei sejak Partai Demokrat dan Partai Republik mengumumkan keduanya sebagai calon yang akan diusung pada pemilu presiden mendatang. Tingkat dukungannya bervariasi antara 41 dan 45 persen. Puncak keunggulan Hillary pada bulan ini terjadi pada hari Selasa lalu yang mencapai 12 poin.
Seminggu terakhir, Trump terus menyerang Hillary dengan sejumlah tuduhan. Trump menyerang Hillary dengan sumbangan untuk yayasan amal keluarganya yang mempengaruhi tindakan Hillary saat menjabat sebagai sekretaris negara dari tahun 2009 sampai 2013. Taipan itu real estate itu juga menyerang Hillary dengan skandal email yang kesemuanya dibantah oleh Hillary.
Keduanya juga terlibat perdebatan tentang siapa yang akan menjadi sosok pembela untuk kelompok Afrika Amerika dan minoritas lainnya. Trump mengisyaratkan siap bersikap lunak terhadap sikap kerasnya terkait kebijakan imigrasi.
Dalam survei yang digelar pada 22-25 Agustus oleh Reuters/Ipsos, 41 persen pemilih cenderung memberikan suaranya kepada Hillary pada pemilu presiden AS yang akan digelar pada 8 November. Sementara 36 persen menyatakan akan memilih Trump, dan 23 persen memilih tidak akan mendukung keduanya seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (27/8/2016).
Sementara dalam survei yang melibatkan calon alternatif, Hillary memimpin dengan margin yang lebih kecil. Sebanyak 39 persen pemilih cenderung mendukung Hillary, 36 persen mendukung Trump, 7 persen untuk tokoh partai Liberty Gary Johnson, dan 3 persen untuk Jill Stein dari Partai Hijau.
Hillary selama ini kerap unggul atas Trump dalam sejumlah jajak pendapat/survei sejak Partai Demokrat dan Partai Republik mengumumkan keduanya sebagai calon yang akan diusung pada pemilu presiden mendatang. Tingkat dukungannya bervariasi antara 41 dan 45 persen. Puncak keunggulan Hillary pada bulan ini terjadi pada hari Selasa lalu yang mencapai 12 poin.
Seminggu terakhir, Trump terus menyerang Hillary dengan sejumlah tuduhan. Trump menyerang Hillary dengan sumbangan untuk yayasan amal keluarganya yang mempengaruhi tindakan Hillary saat menjabat sebagai sekretaris negara dari tahun 2009 sampai 2013. Taipan itu real estate itu juga menyerang Hillary dengan skandal email yang kesemuanya dibantah oleh Hillary.
Keduanya juga terlibat perdebatan tentang siapa yang akan menjadi sosok pembela untuk kelompok Afrika Amerika dan minoritas lainnya. Trump mengisyaratkan siap bersikap lunak terhadap sikap kerasnya terkait kebijakan imigrasi.
(ian/indo)
