Suasana Tak Lagi Angker, Warga Tingginambut Ikut Rayakan Kemerdekaan Indonesia di Markas OPM
INDOPOST, TINGGINAMBUT – Siang
itu, warga di Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya memenuhi
Lapangan Bola berukuran sedang yang terletak di samping Kantor Distrik
Tingginambut. Sorakan dan suara tertawa warga terdengar memenuhi
lapangan tersebut. Ada suasana berbeda yang dirasakan
Selasa 16 Agustus, atau sehari sebelum peringatan Kemerdekaan Indonesia
ke-71 tahun. Aparat kampung dan kepala distrik berserta jajaran
TNI/Polri melakukan sejumlah perlombaan bagi warga setempat.
Panjat pinang salah satunya. Didalam
perlombaan ini, warga harus memanjat pinang yang diatasnya terdapat
berbagai hadiah, seperti kaos, celana pendek dan kebutuhan warga
lainnya. Lomba ini diminati oleh warga Distrik Tingginambut, khususnya
laki-laki dewasa.
Suasana Tingginambut memang tak lagi
angker, seperti sebelumnya yang dibayangkan. Bagaimana tidak, daerah itu
terkenal dengan aksi kekerasan dan penembakan yang diduga dilakukan
oleh kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Goliat Tabuni.
“Sulit
memang membangun daerah ini. Tetapi kami tak menyerah. Saya ingat betul
apa yang dikatakan oleh Dandim Puncak Jaya pertama, Pak Joe Sembiring
yang menyatakan kita harus membuat sesuatu untuk merubah citra buruk di
Tingginambut. Tidak boleh menyerah. Mulai saat itu, kami secara bersama
dengan SKPD dan jajaran TNI/Polri terus berusaha dan bekerja,” kata
Bupati Puncak Jaya, Henok Ibo, saat berkunjung ke Distrik Tingginambut,
Selasa 16 Agustus 2016.
Sejak 2004-2011 daerah Tingginambut
dikuasai oleh Goliat Tabuni. Sejumlah infrastruktur yang telah dibangun
dirusak dan dibakar oleh kelompok ini. Hampir tak ada aktifitas
masyarakat disana. Pendidikan dan kesehatan bagi anak-anak dan
masyarakat tak berjalan normal.
Tahun lalu, Pemerintah Kabupaten Puncak
Jaya kembali membangun sekolah dan pasar. Jalan Mulia-Tingginambut mulai
terbuka 2015. Tak hanya itu, pembangunan 25 rumah bagi masyarakat juga
dilakukan. Pemerintah pun menyediakan listrik di malam hari bagi warga
di Tingginambut.
“Tahun 2014-2015, kami menggelontorkan
dana APBD sebanyak Rp 75 miliar untuk pembangunan jalan
Mulia-Tingginambut. Dulu untuk sampai didaerah ini dari Mulia ditempuh
dengan 2 jam perjalanan darat, tetapi saat ini hanya berkisar 20-25
menit,” katanya.
Untuk
terus membuat mobilisasi warga terasa nyaman dan menikmati pembangunan
tersebut, Henok meminta Menteri Pekerjaan Umum untuk jalan sepanjang 4
kilometer itu dilakukan pengaspalan. Tahun lalu, jalan ini masuk trans
Papua yang seharusnya dibiayai oleh APBN untuk pengaspalan.
Pembangunan jalan di Puncak Jaya sangat
penting dilakukan, salah satunya untuk menekan harga kebutuhan pokok
yang tinggi. Aktifitas masyarakat mulai berjalan baik. Pihaknya pernah
mendapatkan laporan dari warga, bahwa Goliath juga mengintai pembangunan
yang sedang berjalan.
“Goliath pernah menelpon saya dan
memberikan apresiasi atas pembangunan yang telah dinikmati masyarakat.
Dengan adanya pembangunan ini, saya berharap Tingginambut menjadi
percontohan pembangunan di Papua. Alasannya, Tingginambut menjadi daerah
konflik yang dapat berubah dalam pembangunan dengan minimnya
transportasi dan tingkat kemahalan didaerah itu.
(Katharina Louvree)
