Petugas Imigrasi Jakarta Barat Tangkap 2 Orang Biksu Gadungan asal Tiongkok
INDOPOST, JAKARTA - Imigrasi Jakarta Barat tangkap dua biksu
palsu asal Tiongkok Yao Xianhua (51) dan Hu Qiyan (57). Menurut Kepala
Imigrasi Kelas 1 Jakarta Barat Abdul Rachman, pihaknya sudah beberapa
kali menangkap biksu palsu asal Tiongkok.
Mereka biasanya datang ke Indonesia untuk menipu dengan modus meminta sumbangan. Menurut Abdul Rachman tahun 2006, biksu-biksu palsu sebelumnya sudah masuk ke Indonesia.
“Biksu gadungan sudah beroperasi di seluruh Indonesia sejak tahun 2006, 2009, 2011, 2012 dan 2016 yang tertangkap,” kata Abdul Rachman di Kantor Imigrasi Jakarta Barat, Selasa (23/8).
Dia menambahkan tahun 2009 dan 2012 beberapa biksu gadungan beroperasi dengan modus meminta sumbangan untuk bencana alam di Tiongkok.
“Pada tahun 2009 dan 2012, para biksu palsu dulu bawa gambar-gambar bencana untuk minta sumbangan. Sekarang murni minta-minta sebagai biksu dan mendatangi rumah-rumah warga,” ujarnya.
Untuk mengantisipasinya, Abdul Rarchman mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat agar tak langsung percaya terhadap adanya biksu-biksu yang belum dikenal.”Warga harus lebih mengutamakan pemuka agama setempat,” ungkapnya.
(yadi)
Mereka biasanya datang ke Indonesia untuk menipu dengan modus meminta sumbangan. Menurut Abdul Rachman tahun 2006, biksu-biksu palsu sebelumnya sudah masuk ke Indonesia.
“Biksu gadungan sudah beroperasi di seluruh Indonesia sejak tahun 2006, 2009, 2011, 2012 dan 2016 yang tertangkap,” kata Abdul Rachman di Kantor Imigrasi Jakarta Barat, Selasa (23/8).
Dia menambahkan tahun 2009 dan 2012 beberapa biksu gadungan beroperasi dengan modus meminta sumbangan untuk bencana alam di Tiongkok.
“Pada tahun 2009 dan 2012, para biksu palsu dulu bawa gambar-gambar bencana untuk minta sumbangan. Sekarang murni minta-minta sebagai biksu dan mendatangi rumah-rumah warga,” ujarnya.
Untuk mengantisipasinya, Abdul Rarchman mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat agar tak langsung percaya terhadap adanya biksu-biksu yang belum dikenal.”Warga harus lebih mengutamakan pemuka agama setempat,” ungkapnya.
(yadi)
