Hillary Clinton mengaku siap hadapi Donald Trump dalam debat presiden. | (Time)
INDOPOST, WASHINGTON - Calon presiden Amerika
Serikat (AS) dari Partai Demokrat, Hillary Clinton, mengaku siap
berdebat dengan saingannya Donald Trump. Hillary berharap pesaingnya
bisa menjadi musuh yang tidak terduga dalam perdebatan itu. Ia bahkan
berseloroh siap memperdebatkan 'barang aneh' sekalipun dengan Trump.
Debat pertama calon presiden AS direncanakan sebulan dari sekarang di dekat New York. Hillary pun bercanda tentang apa yang ia harapkan dari lawannya yang ortodoks itu.
"Anda harus siap dengan hal-hal yang aneh. Saya berencara untuk menggambarkan pengalaman saya dari SD," katanya dalam acara talk show larut malam Jimmy Kimmel Live seperti dikutip dari Al Arabiya, Selasa (23/8/2016).
Debat presiden kali ini, untuk pertama kalinya, bisa menjadi tantangan yang menakutkan. Trump telah melemparkan sejumlah tudingan kepada Hillary, mulai dari menyebutnya sebagai sosok yang tidak jujur hingga menyatakan mantan First Lady itu mempunyai gangguan kesehatan.
Trump sendiri mengaku tidak akan menghadiri seluruh tiga debat persiden yang dijadwalkan. Padahal, ia telah tertinggal dari Hillary dalam jajak pendapat dan momen seperti debat presiden menawarkan kesempatan baginya untuk memikat pemilih yang belum menentukan pilihannya.
Debat pertama calon presiden AS direncanakan sebulan dari sekarang di dekat New York. Hillary pun bercanda tentang apa yang ia harapkan dari lawannya yang ortodoks itu.
"Anda harus siap dengan hal-hal yang aneh. Saya berencara untuk menggambarkan pengalaman saya dari SD," katanya dalam acara talk show larut malam Jimmy Kimmel Live seperti dikutip dari Al Arabiya, Selasa (23/8/2016).
Debat presiden kali ini, untuk pertama kalinya, bisa menjadi tantangan yang menakutkan. Trump telah melemparkan sejumlah tudingan kepada Hillary, mulai dari menyebutnya sebagai sosok yang tidak jujur hingga menyatakan mantan First Lady itu mempunyai gangguan kesehatan.
Trump sendiri mengaku tidak akan menghadiri seluruh tiga debat persiden yang dijadwalkan. Padahal, ia telah tertinggal dari Hillary dalam jajak pendapat dan momen seperti debat presiden menawarkan kesempatan baginya untuk memikat pemilih yang belum menentukan pilihannya.
(ian)
