Gubernur
Papua Lukas Enembe
INDOPOST, JAYAPURA – Gubernur Papua Lukas Enembe mengatakan, beberapa bulan terakhir ini migrasi yang luar biasa terjadi di Papua dengan jumlah orang yang masuk ke Papua cukup banyak. “Siapa yang mengatur ini? Negara yang atur atau memang ini transmigrasi gelapkah?” katanya dengan nada tanya kepada wartawan, Kota Jayapura, Papua, Selasa sore, 16 Agustus 2016.
Untuk itu, kata Lukas, pihaknya akan
melakukan penertiban terkait orang masuk ke Papua. “Ini akan kami
tertibkan, minta bupati, terutama Kabupaten Jayapura, Kota Jayapura,
Kabupaten Keerom, Kabupaten Sarmi, dan kabupaten Merauke. Sebab
penyebaran orang datang ini, menuju ke daerah ini,” katanya.
Menurut Lukas, dirinya masih merasa
heran, kenapa beberapan bulan belakangan ini orang dari luar Papua masuk
ke wilayah-wilayah itu. “Ini siapa yang mengatur. Ini negara, jadi kami
harus tertibkan. Ini juga salah satu yang akan kami bahas, sebab
masalah besar di Papua,” jelasnya.
Sebenarnya,
kata Lukas, pihaknya sudah melarang pengiriman transmigrasi ke Papua.
“Tapi sekarang ada pengiriman orang yang luar biasa dari Pulau Jawa ke
Papua. Ini orang Yogyakarta saja bisa tertibkan orang dengan aturan
mereka melalui undang-undang keistimewaan, masa kami tak bisa melakukan
hal yang sama?” katanya. Baca juga: Tak Terima Dilabeli Separatis di Yogyakarta, Gubernur Papua: Kami Bisa Buat Aturan Sama di Papua, Kenapa Tidak?
Misalnya saja, kata Lukas, sekarang ini
para mahasiswa asal Papua yang ada di Yogyakarta di larang dan dicap
separatis. “Saya sudah menghadap Gubernur Yogyakarta, tapi tak bisa,
tetap cap separatis itu untuk mereka (mahasiswa asal Papua). Bahkan
mereka tak bisa dapat rumah dan tempat kos,” katanya.
Akibat
hal seperti ini, kata Lukas, para mahasiswa asal Papua di Yogyakarta
minta dipulangkan ke Papua, padahal jumlah mahasiswa asal Papua yang ada
di luar Papua bukan sedikit. Misalnya saja, di Yogyakarta ada 7 ribu
lebih, di Manado juga ada 7 ribu lebih, belum lagi di beberapa daerah di
Pulau Jawa, seperti di Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah.
“Ini kalau kami pulangkan akan menjadi
masalah besar di Papua. Untuk itu, hal ini bukan persoalan provinsi,
tapi sudah menjadi masalah negara. Kondisi sekarang begitu. Mereka
(mahasiswa asal Papua) akan datang berkelahi dengan orang yang datang ke
sini (masuk ke Papua). Itu sudah pasti. Situasi Papua seperti itu,”
jelas Lukas.
(Lazore)
