Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengancam teroris bahwa dia bisa lebih bengis dari ISIS. | (REUTERS/Noel Celis/Pool)
INDOPOST, MANILA - Presiden Filipina Rodrigo
Duterte mengeluarkan ancaman yang sangat keras kepada teroris, di mana
dia mengklaim bisa berbuat lebih bengis dari kelompok ISIS. Duterte
menegaskan bahwa dia tidak akan membiarkan negaranya dihancurkan oleh
terorisme.
Dalam sambutannya di Malacanang, Manila, presiden berusia 71 tahun ini mengatakan bahwa teroris tidak memiliki ideologi politik dan tidak pula memiliki setiap konsep yang benar tentang Tuhan.
“Anda melukai orang, Anda membunuh mereka; orang-orang yang menolak untuk berhubungan seks. Mereka (teroris) membakar orang-orang. Kami telah melihat praktik barbar dan bahkan pemenggalan leher orang di depan dunia,” kata Presiden Duterte.
Duterte, secara khusus memperingatkan kelompok Islamic State (ISIS) setelah militan Abu Sayyaf telah bersumpah setia kepada kelompok radikal di Timur Tengah tersebut.
”Jika Anda bisa melakukannya, saya bisa melakukannya sepuluh kali lebih baik daripada Anda, pasti. Saya akan mempertaruhkan kehormatan saya, hidup saya, dan (jabatan) presiden,” ujarnya memperingatkan ISIS, seperti dikutip dari The Washington Post, Kamis (18/8/2016).
Pada pekan lalu, Duterte pidato di Mindanao dengan menyebut negaranya akan diganggu “penyakit ISIS” dalam tiga sampai tujuh tahun mendatang.
”Mereka tidak bersenjata, tetapi mereka berada di sini untuk indoktrinasi. Itulah yang saya takutkan,” katanya.
Duterte yang dijuluki “The Punsiher” atau “penghukum” selama ini dikenal dengan tindakannya yang sangat keras terhadap pelaku kriminal. Sejak menjabat sebagai presiden, dia mengobarkan perang melawan narkoba. Ratusan orang baik gembong maupun pemakai narkoba dibunuh polisi Filipina di jalan-jalan atas mandat Duterte.
Dia tidak peduli dengan berbagai kritik baik dari kelompok HAM maupun PBB sekalipun bahwa kebijakan perang melawan narkoba melanggar HAM.
Dalam sambutannya di Malacanang, Manila, presiden berusia 71 tahun ini mengatakan bahwa teroris tidak memiliki ideologi politik dan tidak pula memiliki setiap konsep yang benar tentang Tuhan.
“Anda melukai orang, Anda membunuh mereka; orang-orang yang menolak untuk berhubungan seks. Mereka (teroris) membakar orang-orang. Kami telah melihat praktik barbar dan bahkan pemenggalan leher orang di depan dunia,” kata Presiden Duterte.
Duterte, secara khusus memperingatkan kelompok Islamic State (ISIS) setelah militan Abu Sayyaf telah bersumpah setia kepada kelompok radikal di Timur Tengah tersebut.
”Jika Anda bisa melakukannya, saya bisa melakukannya sepuluh kali lebih baik daripada Anda, pasti. Saya akan mempertaruhkan kehormatan saya, hidup saya, dan (jabatan) presiden,” ujarnya memperingatkan ISIS, seperti dikutip dari The Washington Post, Kamis (18/8/2016).
Pada pekan lalu, Duterte pidato di Mindanao dengan menyebut negaranya akan diganggu “penyakit ISIS” dalam tiga sampai tujuh tahun mendatang.
”Mereka tidak bersenjata, tetapi mereka berada di sini untuk indoktrinasi. Itulah yang saya takutkan,” katanya.
Duterte yang dijuluki “The Punsiher” atau “penghukum” selama ini dikenal dengan tindakannya yang sangat keras terhadap pelaku kriminal. Sejak menjabat sebagai presiden, dia mengobarkan perang melawan narkoba. Ratusan orang baik gembong maupun pemakai narkoba dibunuh polisi Filipina di jalan-jalan atas mandat Duterte.
Dia tidak peduli dengan berbagai kritik baik dari kelompok HAM maupun PBB sekalipun bahwa kebijakan perang melawan narkoba melanggar HAM.
(mas)
