Hillary Clinton (Foto: dok.)
INDOPOST, WASHINGTON-Keingintahuan meningkat setelah tokoh yang diasumsikan bakal menjadi
calon presiden dari partai Demokrat Hillary Clinton bertemu selama lebih
dari tiga jam dengan para penyidik FBI terkait penggunaan server email
pribadinya untuk urusan dinas sewaktu menjadi menteri luar negeri pada
masa jabatan pertama Barack Obama. Menurut laporan wartawan Michael
Bowman, interview tersebut mungkin akan menjadi langkah final sebelum
Departemen Kehakiman memutuskan apakah akan mendakwa atau membebaskan
Clinton dari tuduhan bersalah.
Pertemuan pada hari Sabtu lalu di markas besar FBI bersifat sukarela. Clinton ingin mengatasi kehebohan mengenai isu yang tidak selesai-selesai itu. Clinton menjelaskan, ia telah berulang kali mengatakan bahwa jika ia dapat kembali ke masa lalu, ia akan menangani masalah email tersebut dengan cara yang berbeda. Ia tahu orang-orang merasa prihatin.
Calon yang diperkirakan menjadi pesaingnya dari partai Republik, Donald Trump, menyambar melalui Twitter, dengan menulis, “Mustahil bagi FBI untuk tidak merekomendasikan dakwaan pidana terhadap Hillary Clinton. Apa yang ia lakukan itu salah!”
Sekutu-sekutu Clinton tidak sependapat. Senator Sherrod Brown dari partai Demokrat dalam acara televisi ABC “This Week” mengatakan, “Tidak akan ada dakwaan, dan ini berarti dia melakukan apa yang pernah dilakukan banyak menteri luar negeri pada masa lalu.”
Sementara itu mantan senator dari partai Republik Rick Santorum pada acara yang sama menyatakan, “Jika dia bukan Hillary Clinton, jika dia wakil menteri luar negeri yang pernah melakukan hal-hal serupa, pertama, ia akan dipecat, dan ya, mereka akan dikenai tuntutan oleh Departemen Kehakiman.”
Wawancara FBI terhadap Clinton itu berlangsung beberapa hari setelah kemarahan merebak berkenaan dengan pertemuan antara suaminya, mantan presiden Bill Clinton, dan Jaksa Agung Loretta Lynch, yang memikul tanggungjawab tertinggi dalam penyelidikan pemerintah mengenai masalah email Hillary Clinton.
Jaksa Agung Loretta Lynch mengatakan, “Pertemuan saya dengannya tentu saja menimbulkan pertanyaan dan keprihatinan. Saya tentu saja tidak akan melakukannya lagi. Tetapi ini benar-benar pertemuan sosial.”
Menurut peraturan tak tertulis di Washington, para pejabat yang bijak bahkan menghindari kehadiran yang berpotensi dianggap tidak patut.
Trump dan para anggota partai Republik lainnya menyatakan pertemuan itu membuktikan bahwa Departemen Kehakiman di bawah pemerintahan Obama tidak dapat melakukan penyelidikan yang adil terhadap seseorang yang didukung presiden sebagai penerusnya.
Juru bicara Gedung Putih Josh Earnest mengatakan bahwa Gedung Putih dan presiden sama sekali tidak terlibat.
Gedung Putih bersikeras bahwa pendekatannya terhadap penyelidikan email Clinton adalah tidak turut mencampurinya.
Earnest menambahkan bahwa presiden berharap penyelidikan itu ditangani sama seperti yang lainnya, yaitu para penyelidik dipandu oleh fakta.
Clinton berharap penyelidikan FBI berakhir sebelum Konvensi Nasional Partai Demokrat akhir bulan ini. Partai Republik akan mengangkat terus kontroversi ini hingga pemilu November mendatang.
[ab]
Pertemuan pada hari Sabtu lalu di markas besar FBI bersifat sukarela. Clinton ingin mengatasi kehebohan mengenai isu yang tidak selesai-selesai itu. Clinton menjelaskan, ia telah berulang kali mengatakan bahwa jika ia dapat kembali ke masa lalu, ia akan menangani masalah email tersebut dengan cara yang berbeda. Ia tahu orang-orang merasa prihatin.
Calon yang diperkirakan menjadi pesaingnya dari partai Republik, Donald Trump, menyambar melalui Twitter, dengan menulis, “Mustahil bagi FBI untuk tidak merekomendasikan dakwaan pidana terhadap Hillary Clinton. Apa yang ia lakukan itu salah!”
Sekutu-sekutu Clinton tidak sependapat. Senator Sherrod Brown dari partai Demokrat dalam acara televisi ABC “This Week” mengatakan, “Tidak akan ada dakwaan, dan ini berarti dia melakukan apa yang pernah dilakukan banyak menteri luar negeri pada masa lalu.”
Sementara itu mantan senator dari partai Republik Rick Santorum pada acara yang sama menyatakan, “Jika dia bukan Hillary Clinton, jika dia wakil menteri luar negeri yang pernah melakukan hal-hal serupa, pertama, ia akan dipecat, dan ya, mereka akan dikenai tuntutan oleh Departemen Kehakiman.”
Wawancara FBI terhadap Clinton itu berlangsung beberapa hari setelah kemarahan merebak berkenaan dengan pertemuan antara suaminya, mantan presiden Bill Clinton, dan Jaksa Agung Loretta Lynch, yang memikul tanggungjawab tertinggi dalam penyelidikan pemerintah mengenai masalah email Hillary Clinton.
Jaksa Agung Loretta Lynch mengatakan, “Pertemuan saya dengannya tentu saja menimbulkan pertanyaan dan keprihatinan. Saya tentu saja tidak akan melakukannya lagi. Tetapi ini benar-benar pertemuan sosial.”
Menurut peraturan tak tertulis di Washington, para pejabat yang bijak bahkan menghindari kehadiran yang berpotensi dianggap tidak patut.
Trump dan para anggota partai Republik lainnya menyatakan pertemuan itu membuktikan bahwa Departemen Kehakiman di bawah pemerintahan Obama tidak dapat melakukan penyelidikan yang adil terhadap seseorang yang didukung presiden sebagai penerusnya.
Juru bicara Gedung Putih Josh Earnest mengatakan bahwa Gedung Putih dan presiden sama sekali tidak terlibat.
Gedung Putih bersikeras bahwa pendekatannya terhadap penyelidikan email Clinton adalah tidak turut mencampurinya.
Earnest menambahkan bahwa presiden berharap penyelidikan itu ditangani sama seperti yang lainnya, yaitu para penyelidik dipandu oleh fakta.
Clinton berharap penyelidikan FBI berakhir sebelum Konvensi Nasional Partai Demokrat akhir bulan ini. Partai Republik akan mengangkat terus kontroversi ini hingga pemilu November mendatang.
[ab]
