# Group 1 User-agent: Googlebot Disallow: /nogooglebot/ # Group 2 User-agent: * Allow: / Sitemap: https://www.infiltrasi.com/sitemap.xml
Latest News
Friday, July 22, 2016

Miris! 3 Tahun Harga Tak Kunjung Stabil, Petani Karet di Bartim Ini Terpaksa Beralih Profesi Jadi Tukang Ojek

“Harga getah karet tidak stabil atau tidak membaik sejak tiga tahun terakhir ini. Profesi baru sebagai tukang ojek digeluti sejak sebulan terakhir ini untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari,” ujar Warga Desa Dorong, RT 01, Kecamatan Dusun Timur, Kabupaten Barito Timur (Bartim), di Tamiang Layang, baru-baru ini.





INDOPOST, BARITO TIMUR - Barin, 52, terpaksa mencari usaha sambilan menjadi pengemudi ojek untuk memenuhi hidupnya sehari-hari. Ini gara-gara hasil penjualan getah karet yang selama ini ia geluti tidak mencukupi. Saat ini harga getah karet hanya berkisar Rp5.000 per kilogram di tingkat para pengumpul.

“Harga getah karet tidak stabil atau tidak membaik sejak tiga tahun terakhir ini. Profesi baru sebagai tukang ojek digeluti sejak sebulan terakhir ini untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari,” ujar Warga Desa Dorong, RT 01, Kecamatan Dusun Timur, Kabupaten Barito Timur (Bartim), di Tamiang Layang, baru-baru ini.

Padahal, lanjutnya, perkebunan getah karet merupakan usaha andalan warga kabupaten setempat dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Sementara petani getah karet lainnya, Thomas, 44, warga Desa Bangka Rayen, RT 01, Kecamatan Dusun Timur, Kabupaten Barito Timur, mengungkapkan hal senada. Ia mengatakan, seandainya harga getah karet stabil tentunya masyarakat di kabupaten setempat tidak merasa kesusahan. Ia merasa sedang kesulitan lantaran hasil getah karet dibandingkan dengan harga sembako untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya tidak seimbang,

Pasalnya, biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan di kebun saat menyadap karet dalam sehari sebanyak Rp70.000. Uang sebanyak itu untuk kebutuhan makan, minum, lauk pauk, gula, kopi, teh, bahan bakar minyak (BBM), transportasi, rokok, dan sebagainya.

“Sedangkan hasil sadapan getah karet dalam sehari berkisar 20 kilogram dikalikan harga getah karet Rp5.000 per kilogram. Hasil sebesar Rp100.000 itu dikurangi modal Rp70.000. Jadi asil yang didapat hanya Rp30.000 saja dalam sehari. Itu pun masih termasuk pendapatan kotor,” ujarnya.

Barin dan Thomas berharap kepada pemerintah peduli kepada pihak petani getah karet dengan cara menstabilkan harga. Setidaknya bisa kembali ke harga normal. Ini menyesuaikan kebutuhan harga sembako yang mengalami kenaikan harga.

“Harga standar getah karet untuk mencukupi kebutuhan hidup kami sehari-hari dengan kisaran harga minimal Rp7.000 per kilogram sudah bisa mencukupi kebutuhan,” harap mereka.

Lalu, apa pendapat pengumpul getah karet?

Atun, 51, warga Desa Sarapat, Kecamatan Dusun Timur, Kabupaten Barito Timur membenarkan pihaknya membeli getah karet dengan para petani Rp5.000 per kilogram. Apabila pihaknya membeli getah karet lebih dari harga Rp5.000 per kilogram tentu mengalami kerugian.

“Harga getah karet yang kami jual ke pabrikan di Banjarmasin Rp7.500 per kilogram,” ujarnya kepada awak media, di Tamiang Layang, Kamis (21/7/2016).

Dan keuntungan Rp2.5000 per kilogram merupakan keuntungan kotor. Karena ini masih harus menyisihkan biaya transportasi, biaya angkut, biaya bongkar muat. 
(A. Iswani)
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Miris! 3 Tahun Harga Tak Kunjung Stabil, Petani Karet di Bartim Ini Terpaksa Beralih Profesi Jadi Tukang Ojek Rating: 5 Reviewed By: Infiltrasi