Salah satu memo Tony Blair ke George Bush.Tony Blair mengirimkan 29 surat rahasia untuk George Bush sebelum dan selama Perang Irak berlangsung.
INDOPOST, LONDON – Komite Dewan Penasihat Britania Raya mengungkap keterlibatan pemerintahan Inggris semasa Perdana Menteri Tony Blair, yang mendukung Amerika Serikat mengirim pasukan untuk menginvasi Irak. Laporan Chilcot, demikian hasil penyelidikan tersebut diambil dari nama Ketua Komite, Sir John Chilcot, mengungkap 29 lembar memo atau surat rahasia Tony Blair kepada George Bush. Penyelidikan yang dirilis Rabu (6/7/2016) tersebut, mencakup eskalasi menuju konflik, aksi militer dan setelah keterlibatan Inggris, di Irak.
Tujuannya, untuk mengetahui bagaimana keputusan dibuat. Selain itu penyelidikan juga bertujuan, untuk menentukan apa yang terjadi selama di sana, dan mencari pembelajaran langkah yang dilakukan pemerintah Inggris jika dihadapkan pada situasi yang serupa pada masa mendatang.
Laporan itu mengkritik keputusan Inggris dalam invasi Irak –serangan pertama Inggris pada negara berdaulat sejak perang dunia kedua — karena Inggris sebenarnya masih memiliki opsi lewat perundingan damai. Dalam laporan itu juga mengungkapkan, Blair mengirimkan 29 surat rahasia untuk Bush dalam masa-masa sebelum invasi, dengan salah satunya mengatakan “saya akan bersamamu, apapun kondisinya.
” Pada memo tertanggal 4 Desember 2001, Blair mengakui adanya keengganan dari negara-negara lain untuk melakukan aksi militer di Irak, namun menegaskan “yang pasti, orang-orang ingin menyingkirkan Saddam.” Blair juga menyarankan Bush untuk merancang peta untuk menggulingkan rezim Saddam Hussein, termasuk di antaranya menekan Suriah, memantik api pemberontakan di dalam Irak, dan juga mengajak Rusia ikut serta.
Dalam memo tertanggal 28 Juli 2002, Blair mengungkapkan dukungannya untuk Bush, namun mengingatkan bahwa negara-negara Eropa takkan terlibat tanpa adanya otorisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia menyarankan Bush mengumpulkan bukti-bukti bahwa Irak memang menyembunyikan senjata pemusnah massal dan juga bukti keterkaitan Irak dengan al-Qaeda.
“Ini bukan Kosovo. Ini bukan Afghanistan. Ini bahkan bukan Perang Teluk”, tulis Blair dalam memo itu seraya menggambarkan perang Irak tidak akan berlangsung mudah. Blair juga mengatakan pada Bush bahwa Saddam Hussein adalah rezim yang paling brutal di dunia selain Korea Utara, dan menurunkan Sadam Hussein dari posisinya sebagai presiden Irak akan “membebaskan negara itu”.
Dalam memo tertanggal 26 Maret 2003, atau enam hari setelah invasi dimulai, Blair membenarkan serangan tersebut, meski tak ada bukti konkret Irak memiliki senjata pemusnah massal. Blair juga pernah mengirim surat yang menyiratkan kepanikannya.
“Memerangi Irak di daratan sangat sukar. Kami kehilangan orang karena serangan teroris. Kami belum menemukan cukup bukti soal senjata pemusnah massal.”
Laporan Chilcot menyatakan, laporan tersebut menewaskan 150 ribu orang dengan mayoritas di antaranya adalah rakyat Irak dan lebih dari satu juta orang kehilangan rumah.
(kni)
