Di Sebatik, warga negara Indonesia masih menggunakan dua mata uang,
sedangkan warga di Krayan telah menjadikan rupiah sebagai mata uang
satu-satunya dalam hal transaksi.
INDOPOST, TANJUNG SELOR – Meski berada di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tak dapat menjamin perputaran ekonomi di Kecamatan Sebatik dan Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan adalah asli Indonesia. Tak hanya materi kebutuhan, dalam hal transaksi pun diketahui dua wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia tersebut dikabarkan menggunakan mata uang ringgit dan juga rupiah.
Namun seiring dengan waktu serta penanaman ideologi kebangsaan di wilayah perbatasan, Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) Kaltara mengaku telah menyaksikan hal yang berbeda dewasa ini. Kedua wilayah yang disebut-sebut menjadi kawasan transaksi lintas negara tersebut kini mempunyai cara yang berbeda dalam sistem transaksi menggunakan mata uang.
Di Sebatik, warga negara Indonesia masih menggunakan dua mata uang, sedangkan warga di Krayan telah menjadikan rupiah sebagai mata uang satu-satunya dalam hal transaksi. “Di Krayan, bahan memang hampir semuanya berasal dari Malaysia, tapi transaksi jual belinya tetap pakai rupiah. Tidak ada satu sen pun ringgit beredar di Krayan,” ujar Kepala BNPP Kaltara, Udau Robinson beberapa waktu lalu.
Menurutnya, masyarakat mulai sadar dengan adanya pengaruh yang tengah dibangun oleh mata uang ringgit terhadap rupiah. Pun demikian dari sisi nilai yang tentu berbeda antara kedua mata uang tersebut. Asalkan, kata dia, jumlah rupiah yang beredar di Krayan terpenuhi sesuai dengan kebutuhan, maka dia pastikan masyarakat akan terus menggunakan rupiah sebagai alat transaksi.
Hal berbeda berlangsung di Sebatik yang berbatasan dengan Tawau di Malaysia, masih menggunakan ringgit dan rupiah untuk transaksi ekonomi. “Beda dengan Sebatik, transaksinya masih pakai ringgit,” ungkapnya.
Kondisi yang berbeda tersebut menurut Udau dipengaruhi oleh karakteristik masyarakat serta lingkungan. Sebatik dan Krayan dalam sistem sosial sangat berbeda jika ditinjau dari awal pembentukan peradaban masyarakat. Hal tersebut sangat berdampak pada sistem sosial kemasyarakatan, misalnya dari asal-usul, apakah masyarakat sepenuhnya adalah masyarakat yang asli kelahiran Indonesia atau tidak.
Ketergantungan atas kebutuhan barang juga menjadi faktor yang dapat membentuk pengaruh mata uang. Antara Krayan dan Sebatik, meski beredar barang Malaysia, namun juga dipengaruhi oleh barang Indonesia yang beredar di Malaysia.
“Sekarang ini kita masih didikte Malaysia, karena kebutuhan pokok masyarakat dipasok dari Malaysia. Tapi Malaysia juga, kalau di Krayan, bergantung dengan hasil alam kita. Kalau kebutuhan barang baku bisa dari Indonesia, kita justeru yang dikte Malaysia,” tandasnya.
Namun, lanjut Udau, semua itu dapat terwujud jika keterisolasian di Krayan sudah terbuka.
(rul)
